SALAM AIDIL FITRI

SALAM AIDIL FITRI

SELAMAT DATANG. KE BLOG SURAU AL ANSAR GP.

" AGAMA ITU ADALAH NASIHAT "

ULAMA ITU PEWARIS NABI


Sunday, May 8, 2011

KEESAAN DAN KEKUASAAN TUHAN

سُوۡرَةُ البَقَرَة Juzuk 1 ayat 21 -29
Perintah menyembah Tuhan Yang Maha Esa

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ (٢١)
21. Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.

ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ فِرَٲشً۬ا وَٱلسَّمَآءَ بِنَآءً۬ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً۬ فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٲتِ رِزۡقً۬ا لَّكُمۡ‌ۖ فَلَا تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ أَندَادً۬ا وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ (٢٢)
22. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah (a) padahal kamu mengetahui.

(a) Ialah segala sesuatu yang disembah di samping menyembah Allah seperti berhala-berhala, dewa-dewa dan sebagainya.

Tantangan kepada kaum musyrikin mengenai Al Qur’an

وَإِن ڪُنتُمۡ فِى رَيۡبٍ۬ مِّمَّا نَزَّلۡنَا عَلَىٰ عَبۡدِنَا فَأۡتُواْ بِسُورَةٍ۬ مِّن مِّثۡلِهِۦ وَٱدۡعُواْ شُهَدَآءَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ صَـٰدِقِينَ (٢٣)
23. Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah (a) satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.

(a) Ayat ini merupakan tantangan bagi mereka yang meragukan kebenaran Al Qur’an itu tidak dapat ditiru walaupun dengan mengerahkan semua ahli sastra dan bahasa karena ia merupakan mu’jizat Nabi Muhammad s.a.w.

فَإِن لَّمۡ تَفۡعَلُواْ وَلَن تَفۡعَلُواْ فَٱتَّقُواْ ٱلنَّارَ ٱلَّتِى وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ‌ۖ أُعِدَّتۡ لِلۡكَـٰفِرِينَ
24. Maka jika kamu tidak dapat membuat (nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat (nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.
.............................................

Balasan terhadap orang-orang yang beriman.


وَبَشِّرِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ أَنَّ لَهُمۡ جَنَّـٰتٍ۬ تَجۡرِى مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ‌ۖ ڪُلَّمَا رُزِقُواْ مِنۡہَا مِن ثَمَرَةٍ۬ رِّزۡقً۬ا‌ۙ قَالُواْ هَـٰذَا ٱلَّذِى رُزِقۡنَا مِن قَبۡلُ‌ۖ وَأُتُواْ بِهِۦ مُتَشَـٰبِهً۬ا‌ۖ وَلَهُمۡ فِيهَآ أَزۡوَٲجٌ۬ مُّطَهَّرَةٌ۬‌ۖ وَهُمۡ فِيهَا خَـٰلِدُونَ (٢٥) ۞
25. Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya (a)

(a) Keni’matan di surga itu adalah keni’matan yang serba lengkap, baik jasmani maupun rohani.

Perumpamaan-perumpamaan dalam Al Qur’an dan hikmah-hikmahnya.

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَسۡتَحۡىِۦۤ أَن يَضۡرِبَ مَثَلاً۬ مَّا بَعُوضَةً۬ فَمَا فَوۡقَهَا‌ۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَيَعۡلَمُونَ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّهِمۡ‌ۖ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ ڪَفَرُواْ فَيَقُولُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَـٰذَا مَثَلاً۬‌ۘ يُضِلُّ بِهِۦ ڪَثِيرً۬ا وَيَهۡدِى بِهِۦ كَثِيرً۬ا‌ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِۦۤ إِلَّا ٱلۡفَـٰسِقِينَ (٢٦)
26. Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu (a) Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?" Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah (b) dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik,

(a) Di waktu turunnya ayat 73 surat 22 Al Hajj yang di dalamnya Tuhan menerangkan bahwa berhala-berhala yang mereka sembah itu tidak dapat membuat lalat, sekalipun mereka kerjakan bersama-sama, dan turunnya ayat 41 surat Al `Ankabuut yang di dalamnya Tuhan menggambarkan kelemahan berhala-berhala yang dijadikan oleh
orang-orang musyrik itu sebagai pelindung sama dengan lemahnya sarang laba-laba.

(b) Disesatkan Allah berarti: bahwa orang itu sesat berhubung keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah. Dalam ayat ini, karena mereka itu ingkar dan tidak mau memahami apa sebabnya Allah menjadikan nyamuk sebagai perumpamaan, maka mereka itu menjadi sesat.

ٱلَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهۡدَ ٱللَّهِ مِنۢ بَعۡدِ مِيثَـٰقِهِۦ وَيَقۡطَعُونَ مَآ أَمَرَ ٱللَّهُ بِهِۦۤ أَن يُوصَلَ وَيُفۡسِدُونَ فِى ٱلۡأَرۡضِ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡخَـٰسِرُونَ (٢٧)
27. (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.

Bukti-bukti kekuasaan Tuhan.

كَيۡفَ تَكۡفُرُونَ بِٱللَّهِ وَڪُنتُمۡ أَمۡوَٲتً۬ا فَأَحۡيَـٰڪُمۡ‌ۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمۡ ثُمَّ يُحۡيِيكُمۡ ثُمَّ إِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ (٢٨)
28. Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?

هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ لَكُم مَّا فِى ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعً۬ا ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ فَسَوَّٮٰهُنَّ سَبۡعَ سَمَـٰوَٲتٍ۬‌ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيمٌ۬ (٢٩)
29. Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

GAMBAR GAMBAR DIBAWAH ADALAH BAHAGIAN PALING KECIL DARIPADA TUBUH KITA DILIHAT DENGAN SUPER MICROSKOP. LIHATLAH KEBESARAN DAN KEKUASAAN ALLAH TAALA.


Titik-titik perasa di lidah, dilidah kita memiliki 10.000 titik perasa yang mampu membedakan rasa manis, masam, masin, pahit pedas dan lainnya


Ini merupakan ujung rambut kita yang rosak (bercabang)


Ini merupakan gambar sel darah merah, sepert terumbu karang


Ini merupakan kumpulan sel darah beku pada tubuh kita, sedangkan yang putih di tengah adalah sel darah putih yang beku

Sunday, March 13, 2011

Surah Al Baqarah ayat 1 -20


AL BAQARAH
(Sapi betina)

MUQADDIMAH



Surat "Al Baqarah" yang 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturunkan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Haji wadaa’ (haji Nabi Muhammad s.a.w. yang terakhir). Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golongan Madaniyyah, merupakan surah yang terpanjang di antara surah-surah Al Qur’an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surah ini dinamai "Al Baqarah" karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67 sampai dengan 74), di mana dijelaskan watak orang Yahudi pada umumnya. Dinamai "Fusthaathul-Qur’an" (puncak Al Qur’an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain. Dinamai juga surah "Alif-laam-miim" karena surah ini dimulai dengan Alif-laam-miim.


Pokok-pokok isinya:

1. Keimanan:

Da’wah Islamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.


2. Hukum-hukum:

Perintah mengerjakan solat; menunaikan zakat; hukum puasa; hukum haji dan umrah; hukum qishash; hal-hal yang halal dan yang haram; bernafkah di jalan Allah; hukum arak dan judi; cara menyantuni anak yatim, larangan riba; hutang-piutang; nafkah dan yang berhak menerimanya; wasiat kepada dua orang ibu-bapa dan kaum kerabat; hukum sumpah; kewajiban menyampaikan amanat; sihir; hukum merusak masjid; hukum mengubah kitab-kitab Allah; hukum haidh, ’iddah, thalak, khulu’, ilaa’ dan hukum susuan; hukum melamar, mahar, larangan mengahwini wanita musyrik dan sebaliknya; hukum perang.


3. Kisah-kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s. kisah Nabi Ibrahim a.s.; kisah Nabi Musa a.s. dengan Bani Israil.


4. Dan lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa; sifat-sifat orang munafik; sifat-sifat Allah; perumpamaan-perumpamaan; kiblat, kebangkitan sesudah mati.



AL BAQARAH (SAPI BETINA)
Surah ke 2 : 286 ayat

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

TIGA GOLONGAN MANUSIA DALAM MENGHADAPI AL QUR’AN


Golongan Mu’min
الٓمٓ (١

ayat 1.
Alif laam miim (a).

(a) Ialah huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebahagian dari surah-surah Al Qur’an seperti: Alif laam miim, alif laam raa, alif laam miim shaad dan sebagainya. Di antara ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya. Golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surah, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian para pendengar supaya memperhatikan Al Qur’an itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Qur’an itu diturunkan dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. Kalau mereka tidak percaya bahwa Al Qur’an diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad s.a.w. semata-mata, maka cobalah mereka buat semacam Al Qur’an itu.

ذَٲلِكَ ٱلۡڪِتَـٰبُ لَا رَيۡبَ‌ۛ فِيهِ‌ۛ هُدً۬ى لِّلۡمُتَّقِينَ (٢
Ayat ke 2.
Kitab (a) (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa (b),

(a) Tuhan menamakan Al Qur’an dengan Al Kitab yang di sini berarti "yang ditulis", sebagai isyarat bahwa Al Qur’an diperintahkan untuk ditulis.
(b) Takwa yaitu memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-Nya; dan menjauhi segala larangan-Nya; tidak cukup diartikan dengan takut saja.

ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡغَيۡبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَـٰهُمۡ يُنفِقُونَ (٣
Ayat ke 3.
(yaitu) mereka yang beriman (a) kepada yang ghaib (b) yang mendirikan solat (c) dan menafkahkan sebahagian rezki (d) yang Kami anugerahkan kepada mereka,

(a) Iman ialah kepercayaan yang teguh yang disertai dengan ketundukan dan penyerahan jiwa. Tanda-tanda adanya iman ialah mengerjakan apa yang dikehendaki oleh iman itu.
(b) Yang ghaib ialah yang tak dapat ditangkap oleh panca indera. Percaya kepada yang ghaib yaitu, meng-i’tikadkan adanya suatu "yang maujud" yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera, karena ada dalil yang menunjukkan kepada adanya, seperti: adanya Allah, Malaikat-malaikat, Hari akhirat dan sebagainya.
(c) Solat menurut bahasa Arab: do’a. Menurut istilah syara’ ialah ibadat yang sudah dikenal, yang dimulai dengan takbir dan disudahi dengan salam, yang dikerjakan untuk membuktikan pengabdian dan kerendahan diri kepada Allah. Mendirikan shalat ialah menunaikannya dengan teratur, dengan melengkapi syarat-syarat, rukun-rukun dan adab-adabnya, baik yang lahir maupun yang batin, seperti khusyu’, memperhatikan apa yang dibaca dan sebagainya.
(d) Rezki: segala yang dapat diambil manfa’atnya. Menafkahkan sebahagian rezki, ialah memberikan sebahagian dari harta yang telah direzkikan oleh Tuhan kepada orang-orang yang disyari’atkan oleh agama memberinya, seperti orang-orang fakir, orang-orang miskin, kaum kerabat, anak-anak yatim dan lain-lain.


وَٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبۡلِكَ وَبِٱلۡأَخِرَةِ هُمۡ يُوقِنُونَ (
٤
Ayat ke 4.
dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu (a) serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat (b).

(a) Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelum Muhammad s.a.w. ialah kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al Qur’an seperti: Taurat, Zabur, Injil dan shuhuf-shuhuf yang tersebut dalam Al Qur’an yang diturunkan kepada para Rasul, Allah menurunkan Kitab kepada Rasul ialah dengan memberikan wahyu kepada Jibril a.s. lalu Jibril menyampaikannya kepada Rasul.
(b) Yakin ialah kepercayaan yang kuat dengan tidak dicampuri keraguan sedikitpun. Akhirat lawan dunia. Kehidupan akhirat ialah kehidupan sesudah dunia berakhir. Yakin akan adanya kehidupan akhirat ialah benar-benar percaya akan adanya kehidupan sesudah dunia berakhir.


أُوْلَـٰٓٮِٕكَ عَلَىٰ هُدً۬ى مِّن رَّبِّهِمۡ‌ۖ وَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ (
٥
Ayat ke 5.
Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung (a)
(a) Ialah orang-orang yang mendapat apa-apa yang dimohonkannya kepada Allah sesudah mengusahakannya.


Golongan kafir

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ سَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ءَأَنذَرۡتَهُمۡ أَمۡ لَمۡ تُنذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ (٦
Ayat ke 6.
Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman.

خَتَمَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ وَعَلَىٰ سَمۡعِهِمۡ‌ۖ وَعَلَىٰٓ أَبۡصَـٰرِهِمۡ غِشَـٰوَةٌ۬‌ۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٌ۬ (٧
Ayat ke 7.
Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka (a) dan penglihatan mereka ditutup (b). Dan bagi mereka siksa yang amat berat.
(a) Yakni orang itu tidak dapat menerima petunjuk dan segala macam nasehatpun tidak akan berbekas padanya.
(b) Maksudnya: mereka tidak dapat memperhatikan dan memahami ayat-ayat Al Qur’an yang mereka dengar dan tidak dapat mengambil pelajaran dari tanda-tanda kebesaran Allah yang mereka lihat di cakrawala, di permukaan bumi dan pada diri mereka sendiri.



Golongan munafik

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ وَمَا هُم بِمُؤۡمِنِينَ (٨
Ayat ke 8.
Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian" (a), padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.

(a) Hari kemudian ialah: mulai dari waktu makhluk dikumpulkan di padang mahsyar sampai waktu yang tak ada batasnya.

يُخَـٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَمَا يَخۡدَعُونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمۡ وَمَا يَشۡعُرُونَ (٩
Ayat ke 9.
Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.

فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ۬ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضً۬ا‌ۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمُۢ بِمَا كَانُواْ يَكۡذِبُونَ (١٠
Ayat ke 10.
Dalam hati mereka ada penyakit (a), lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.
(a) Yakni keyakinan mereka terhadap kebenaran Nabi Muhammad s.a.w. lemah. Kelemahan keyakinan itu, menimbulkan kedengkian, iri-hati dan dendam terhadap Nabi s.a.w., agama dan orang-orang Islam.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَا تُفۡسِدُواْ فِى ٱلۡأَرۡضِ قَالُوٓاْ إِنَّمَا نَحۡنُ مُصۡلِحُونَ (١١
Ayat ke 11.
Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi (a), mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan."
(a) Kerusakan yang mereka perbuat di muka bumi bukan berarti kerusakan benda, melainkan menghasut orang-orang kafir untuk memusuhi dan menentang orang-orang Islam.

أَلَآ إِنَّهُمۡ هُمُ ٱلۡمُفۡسِدُونَ وَلَـٰكِن لَّا يَشۡعُرُونَ (١٢
Ayat ke 12.
Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.


وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ ءَامِنُواْ كَمَآ ءَامَنَ ٱلنَّاسُ قَالُوٓاْ أَنُؤۡمِنُ كَمَآ ءَامَنَ ٱلسُّفَهَآءُ‌ۗ أَلَآ إِنَّهُمۡ هُمُ ٱلسُّفَهَآءُ وَلَـٰكِن لَّا يَعۡلَمُونَ (١٣

Ayat ke 13.
Apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman", mereka menjawab: "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?" Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu.

وَإِذَا لَقُواْ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوۡاْ إِلَىٰ شَيَـٰطِينِهِمۡ قَالُوٓاْ إِنَّا مَعَكُمۡ إِنَّمَا نَحۡنُ مُسۡتَہۡزِءُونَ (١٤)
Ayat ke 14.
Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman." Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka (a) mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok".
(a) Maksudnya: pemimpin-pemimpin mereka.


ٱللَّهُ يَسۡتَہۡزِئُ بِہِمۡ وَيَمُدُّهُمۡ فِى طُغۡيَـٰنِهِمۡ يَعۡمَهُونَ (١٥

Ayat ke 15.
Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.

أُوْلَـٰٓٮِٕكَ ٱلَّذِينَ ٱشۡتَرَوُاْ ٱلضَّلَـٰلَةَ بِٱلۡهُدَىٰ فَمَا رَبِحَت تِّجَـٰرَتُهُمۡ وَمَا كَانُواْ مُهۡتَدِينَ (١٦
Ayat ke 16.
Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.

مَثَلُهُمۡ كَمَثَلِ ٱلَّذِى ٱسۡتَوۡقَدَ نَارً۬ا فَلَمَّآ أَضَآءَتۡ مَا حَوۡلَهُ ۥ ذَهَبَ ٱللَّهُ بِنُورِهِمۡ وَتَرَكَهُمۡ فِى ظُلُمَـٰتٍ۬ لَّا يُبۡصِرُونَ (١٧
Ayat ke 17.
Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api (a) maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.
(a) Orang-orang munafik itu tidak dapat mengambil manfa’at dari petunjuk-petunjuk yang datang dari Allah, karena sifat-sifat kemunafikan yang bersemi dalam dada mereka. Keadaan mereka digambarkan Allah seperti dalam ayat tersebut di atas.

صُمُّۢ بُكۡمٌ عُمۡىٌ۬ فَهُمۡ لَا يَرۡجِعُونَ (١٨
Ayat ke 18.
Mereka tuli, bisu dan buta (a) maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar).
(a) Walaupun pancaindera mereka sehat mereka dipandang tuli, bisu dan buta oleh karena tidak dapat menerima kebenaran.


أَوۡ كَصَيِّبٍ۬ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ فِيهِ ظُلُمَـٰتٌ۬ وَرَعۡدٌ۬ وَبَرۡقٌ۬ يَجۡعَلُونَ أَصَـٰبِعَهُمۡ فِىٓ ءَاذَانِہِم مِّنَ ٱلصَّوَٲعِقِ حَذَرَ ٱلۡمَوۡتِ‌ۚ وَٱللَّهُ مُحِيطُۢ بِٱلۡكَـٰفِرِينَ (
١٩
Ayat ke 19.
atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati (a). Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir (b).
(a) Keadaan orang-orang munafik itu, ketika mendengar ayat-ayat yang mengandung peringatan, adalah seperti orang yang ditimpa hujan lebat dan petir. Mereka menyumbat telinganya karena tidak sanggup mendengar peringatan-peringatan Al Qur’an itu.
(b) Maksudnya pengetahuan dan kekuasaan Allah meliputi orang-orang kafir.

يَكَادُ ٱلۡبَرۡقُ يَخۡطَفُ أَبۡصَـٰرَهُمۡ‌ۖ كُلَّمَآ أَضَآءَ لَهُم مَّشَوۡاْ فِيهِ وَإِذَآ أَظۡلَمَ عَلَيۡہِمۡ قَامُواْ‌ۚ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمۡعِهِمۡ وَأَبۡصَـٰرِهِمۡ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدِيرٌ۬ (٢٠
Ayat ke 20.
Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jika Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.

Wednesday, March 2, 2011

SURAH ALFATIHAH



( klip imej untuk besarkan )

AL FAATIHAH

(Pembukaan)


MUQADDIMAH


Surah "Al Faatihah" (Pembukaan) yang diturunkan di Mekah dan terdiri dari 7 ayat adalah surah yang pertama-tama diturunkan dengan lengkap di antara surah-surah yang ada dalam Al Qur’an dan termasuk golongan Surah Makkiyyah.

Surah ini disebut "Al Faatihah" (Pembukaan), karena dengan surah inilah dibuka dan dimulainya Al Qur’an.

Dinamakan "Ummul Qur’an" (ibu atau induk Al Qur’an) atau "Ummul Kitaab" (ibu atau induk Al Kitaab) karena dia merupakan induk bagi semua isi Al Qur’an, serta menjadi inti sari dari kandungan Al Qur’an dan karena itu diwajibkan membacanya pada tiap-tiap shalat. Dinamakan pula "As Sab’ul matsaany" (tujuh yang berulang-ulang) karena ayatnya tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam shalat.

Surah ini mengandungi beberapa unsur pokok yang mencerminkan seluruh isi Al Qur’an, yaitu:

1. Keimanan:

Beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa terdapat dalam ayat 2, di mana dinyatakan dengan tegas bahwa segala puji dan ucapan syukur atas sesuatu ni’mat itu bagi Allah, karena Allah adalah Pencipta dan sumber segala ni’mat yang terdapat dalam alam ini.
Di antara ni’mat itu ialah: ni’mat menciptakan, ni’mat mendidik dan menumbuhkan, sebab kata "Rabb" dalam kalimat "Rabbul-’aalamiin tidak hanya berarti "Tuhan" dan "Penguasa", tetapi juga mengandung arti tarbiyah yaitu mendidik dan menumbuhkan.
Hal ini menunjukkan bahwa segala ni’mat yang dilihat oleh seorang dalam dirinya sendiri dan dalam segala alam ini bersumber dari Allah, karena Tuhanlah Yang Maha Berkuasa di alam ini. Pendidikan, penjagaan dan penumbuhan oleh Allah di alam ini haruslah diperhatikan dan difikirkan oleh manusia sedalam-dalamnya, sehingga menjadi sumber pelbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat menambah keyakinan manusia kepada keagungan dan kemuliaan Allah, serta berguna bagi masyarakat. Oleh karena keimanan (ketauhidan) itu merupakan masalah yang asas, maka di dalam surah Al Faatihah tidak cukup dinyatakan dengan isyarat saja, tetapi ditegaskan dan dilengkapi oleh ayat 5, yaitu: Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin (hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan).

Yang dimaksud dengan "Yang menguasai hari pembalasan" ialah pada hari itu Allahlah Yang berkuasa, segala sesuatu tunduk kepada kebesaran-Nya sambil mengharap ni’mat dan takut kepada siksaan-Nya.
Hal ini mengandung arti janji untuk memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk. "Ibadat" yang terdapat pada ayat 5 semata-mata ditujukan kepada Allah, selanjutnya lihat catatan ayat 5 surat Al Faatihah.


2. Hukum-hukum:


Jalan kebahagiaan dan bagaimana seharusnya menempuh jalan itu untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Maksud "hidayah" di sini ialah hidayah yang menjadi sebab dapatnya keselamatan, kebahagiaan dunia dan akhirat, baik yang mengenai keyakinan maupun akhlak, hukum-hukum dan pelajaran.


3. Kisah-kisah:

Kisah para nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang Allah. Sebahagian besar dari ayat-ayat Al Qur’an memuat kisah-kisah para nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang Allah. Yang dimaksud dengan orang yang diberi ni’mat dalam ayat ini, ialah para nabi, para shiddieqiin (orang-orang yang sungguh-sungguh beriman), syuhadaa (orang-orang yang mati syahid), shaalihiin (orang-orang yang saleh).
Orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat, ialah golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.


Perincian dari yang telah disebutkan di atas terdapat dalam ayat-ayat Al Qur’an pada surat-surat yang lain.

AL-FAATIHAH (PEMBUKAAN)
Surat ke 1 : 7 ayat
JUZ 1



1. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (a)

(a) Berarti: saya memulai membaca Al Faatihah ini dengan menyebut nama Allah. Tiap-tiap pekerjaan yang baik itu hendaknya dimulai dengan menyebut nama Allah, seperti: makan, minum, menyembelih binatang untuk dimakan dan sebagainya. Allah ialah nama Zat yang Maha Suci, yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya; yang tidak memerlukan makhluk-Nya, tetapi makhluk memerlukankan-Nya. Ar Rahmaan (Maha Pemurah): salah satu dari nama Allah, yang memberi pengertian bahwa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya, sedang Ar Rahiim (Maha Penyayang) memberi pengertian, bahwa Allah senantiasa bersifat rahmat yang menyebabkan Allah selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.

2. Segala puji (a) bagi Allah, Tuhan semesta alam (b)

(a) Alhamdu (segala puji). Memuji orang adalah karena perbuatannya yang baik yang dikerjakan dengan kemahuannya sendiri. Maka memuji Allah berarti: menyanjung-Nya karena perbuatan-Nya yang baik. Lain halnya dengan syukur yang berarti: mengakui keutamaan seseorang terhadap ni’mat yang diberikannya. Kita menghadapkan segala puji kepada Allah ialah karena Allah adalah sumber dari segala kebaikan yang patut dipuji.

(b) Rabb (Tuhan) berarti: Tuhan yang dita’ati Yang Memiliki, Mendidik dan Memelihara. Lafazh "rabb" tidak dapat dipakai selain untuk Tuhan kecuali kalau ada sambungannya, seperti: rabbul-bait (tuan rumah). `Alamin (semesta alam): semua yang diciptakan Tuhan yang terdiri dari berbagai-bagai jenis dan macam, seperti: alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya. Allah Pencipta semua alam-alam itu.

3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,

4. Yang menguasai (a) hari pembalasan (b)

(a) Maalik (Yang menguasai), dengan memanjangkan "mim" ia berarti: pemilik (yang empunya). Dapat pula dibaca dengan Malik (dengan memendekkan "mim") berarti raja.

(b) Yaumiddin (hari pembalasan): hari yang di waktu itu masing-masing manusia menerima pembalasan amalannya yang baik maupun yang buruk. Yaumiddin disebut juga yaumulqiyaamah, yaumulhisaab, yaumuljazaa’ dan sebagainya.


5. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah (a) dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan (b)

(a) Na’budu diambil dari kata ’ibaadat: kepatuhan dan ketundukan yang ditimbulkan oleh perasaan tentang kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, karena keyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya.

(b) Nasta‘iin (minta pertolongan), diambil dari kata isti‘aanah: mengharap bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup diselesaikan dengan tenaga sendiri.

6. Tunjukilah kami (a) jalan yang lurus,

(a) Ihdina (tunjukilah kami), diambil dari kata hidaayat: memberi petunjuk ke suatu jalan yang benar. Yang dimaksud dengan ayat ini bukan sekedar memberi hidayah saja, tetapi juga memberi taufiq.

7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni‘mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai (orang-orang yang mengetahui kebenaran dan meninggalkannya), dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (orang-orang yang meninggalkan kebenaran karena ketidaktahuan dan kejahilan). (a)

(a) Yang dimaksud dengan mereka yang dimurkai dan mereka yang sesat ialah semua golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.

PENUTUP


Surah "Al Faatihah" ini melengkapi unsur-unsur pokok syari’at Islam, kemudian dijelaskan perinciannya oleh ayat-ayat Al Qur’an yang 113 surah berikutnya.
Persesuaian surah ini dengan surah "Al Baqarah" dan surah-surah sesudahnya ialah surah Al Faatihah merupakan titik-titik pembahasan yang akan diperinci dalam surah Al Baqarah dan surah-surah yang sesudahnya.

Di bahagian akhir surah "Al Faatihah" disebutkan permohonan hamba supaya diberi petunjuk oleh Tuhan ke jalan yang lurus, sedang Surah "Al Baqarah" dimulai dengan penunjukan "Al Kitab" (Al Qur’an) yang sempurna sebagai pedoman menuju jalan yang dimaksudkan itu.

Thursday, February 24, 2011

ITTIBA' ( MENGIKUTI AL QURAN ) DAN KEUTAMAAN AMANAH

Ittiba‘ (mengikuti) di dalam Alquran disebutkan dalam dua hal; yang diperintahkan dan yang dilarang. Hal ini dapat dijumpai dalam beberapa ayat. Di antara yang diperintahkan adalah;
1. Mengikuti wahyu.

Allah berfirman:


Ertinya ."Alif, laam miim shaad. Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang kafir), dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya)
(Al-A'raaf: 1 - 3).

Kandungan ayat:

1. Menjelaskan keagungan Alquran. Karena telah diturunkan oleh yang Maha Bijaksana dan Maha Terpuji.

2. Alquran mengandung semua apa yang diperlukan oleh para hamba baik dalam urusan agama atau dunia mereka. Sebagaimana firman Allah:




Ertinya "Dan Kami turunkan kepadamu Alkitab (Alquran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri".(An-Nahl:89).

3. Alquran diturunkan kepada Muhammad sebagai peringatan kepada seluruh manusia. Allah berfirman:




Erinya "Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan".(Saba':28).

4. Perintah untuk mengikuti apa yang telah diturukan Allah kepada Rasul saw.

5. Larangan mengikuti selain Allah, seperti orang-orang yang ditujukan doa kepada mereka (disembah) selain Allah atau bersama-Nya. Allah berfirman:



Ertinya "Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). (Az-Zumar:3)

dan firman Allah:



"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan solat dan mengeluarkan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus".(Al-Bayinah:5)


Keutamaan Amanat


عن أنس بن مالك -رضي الله عنه- أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال:
( إن لكل أمة أمينا، وإن أميننا أيتها الأمة أبو عبيدة بن الجراح )
البخاري (ح 3744) ، مسلم (ح 2419)



Dari Anas bin Malik ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Sesungguhnya setiap umat itu memiliki seorang kepercayaan dan sesungguhnya orang kepercayaan kita wahai umatku adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah."
(Bukhari, 3744 dan Muslim, 2419)

Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari, jilid 7, halaman 93:
"Al-Amin adalah orang yang dipercaya dan diridai. Meskipun sifat ini sama-sama dimiliki oleh sahabat yang lain, tetapi alur pembicaraan menunjukkan bahwa sahabat ini memiliki kelebihan. Maka dari itu Rasulullah memberikan sifat khusus kepada sebahagian sahabat, meskipun sahabat yang lain juga memiliki sifat yang sama, seperti:

- Memberikan kekhususan kepada Usman dengan sifat malu.
- Memberikan kekhususan kepada Ali sebagai ahli hukum.
- Memberikan kekhususan kepada Zaid sebagai ahli pembagian warisan.

Meskipun para sahabat yang lain juga memiliki keahlian yang sama dengan mereka dalam masalah itu, tetapi ketiga sahabat itu memiliki kelebihan daripada mereka, begitu pula Abu Ubaidah ra. memiliki kelebihan daripada mereka.

Wednesday, January 12, 2011

DUA PRINSIP AGUNG

DUA PRINSIP AGUNG




Allah berfirman: "Tentang sesuatu apapun kamu berselisih maka putusannya (terserah) kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nyalah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali)" (Asy-Syura: 10)

Keterangan dan kandungan ayat:

Firman Allah: "Tentang sesuatu apapun kamu berselisih"
maksudnya masalah prinsip-prinsip dan cabang-cabang agama yang tidak kamu sepakati.

Firman Allah: "maka putusannya (terserah) kepada Allah"
maksudnya dikembalikan kepada kitab Allah dan sunah Nabi saw. Apapun putusan yang tersebut di dalamnya adalah benar, sedang yang bertentangan dengannya adalah salah.

Firman Allah "itulah Allah Tuhanku" maksudnya; Allah, sebagaimana Dia adalah Tuhan Yang Maha Pencipta, Pemberi rezeki dan pengatur, Dia juga sebagai hakim antara para hamba-Nya dengan syariat-Nya dalam semua urusan mereka.
Dari ayat dapat diambil kesimpulan bahwa
Ijma' (konsensus ulama) adalah dalil yang qath'i adalah dasar hukum yang jelas. Hal itu, karena Allah swt. tidak memerintahkan untuk merujuk kepada-Nya kecuali dalam urusan yang kita perselisihkan. Dari itu maka semua hal yang sudah kita sepakati adalah cukup. Umat terjaga dari kesalahan, dari itu kesepakatannya sesuai dengan kitab Allah dan sunah Rasul-Nya.

Firman Allah: "Kepada-Nyalah aku bertawakal"
yaitu, "Aku bersandar dengan hatiku kepada-Nya dalam mendatangkan manfaat/maslahat dan menolak mudarat. Aku percaya kepada-Nya dalam menolongku dalam urusan itu."

Firman Allah swt.: "kepada-Nyalah aku kembali" yaitu, "Aku menghadap dengan hati dan badanku kepada-Nya, juga kepada ketaatan dan beribadah kepada-Nya.
Tawakal dan kembali adalah dua prinsip agung yang sering disebut oleh Allah dalam kitab-Nya. Karena dengan keduanya seorang hamba mencapai kesempurnaan, dan akan tidak sempurna dengan kehilangan salah satu atau keduanya.

Allah berfirman: "Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan" dan "Sembahlah Allah dan bertawakallah kepada-Nya"
Lihat Tafsir Ibnu Sa'di, halaman 699 (cetakan Luwaihiq)


Beberapa Tanda Kenabian Muhammad saw.


عن أبي سفيان بن حرب -رضي الله عنه- في قصته مع هرقل أن هرقل قال:
( وسألتك بم يأمركم؟ فذكرت أنه يأمركم أن تعبدوا الله ولا تشركوا به شيئا، وينهاكم عن عبادة الأوثان، ويأمركم بالصلاة والصدق والعفاف. فإن كان ما تقول حقا فسيملك موضع قدمي هاتين )
الحديث (البخاري ح 7) ، (مسلم ح 1773)


Dari Abu Sufyan ra. dalam kisahnya dengan Hiraklius. Hiraklius Berkata: "Aku bertanya kepadamu, 'Apa yang dia perintahkan kepadamu?' kamu menjawab bahwa dia memerintahkanmu menyembah Allah, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatupun dan melarang kalian menyembah berhala, memerintahkan kamu sekalian mengerjakan salat, jujur, dan 'iffah. Bila apa yang kamu katakan ini benar, maka ia akan menguasai tempat pijakan dua kakiku ini.(Diriwayatkan oleh Bukhari, 6. Dan Muslim, 1773)

'Afaf adalah menahan diri dari sesuatu yang haram dan perangai yang tidak terpuji.
Nas hadis di atas adalah sebagian dari sebuah hadis yang panjang, yang mencakup pokok-pokok ajakan Muhammad saw. untuk menganut Ajaran tauhid. Yaitu dengan tulus ikhlas hanya menyembah Allah semata, melarang menyembah selain-Nya, mengajak melakukan salat dan perintah-perintah dalam Islam lainnya.

Juga mengandung kebenaran yang ditemukan oleh Hiraklius setelah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada Abu Sufyan ra, bahwa semua itu merupakan sifat-sifat Rasulullah saw yang terdapat dalam kitab-kitab yang diturunkan kepada Nabi-nabi mereka.

Nawawi dalam kitabnya "Syarah Sahih Muslim, jilid 12, halaman 107 mengatakan: "Para ulama berkata: 'Apa yang dikatakan oleh Hiraklius, diambilnya dari kitab-kitab lama, di dalam Taurat sifat ini dan sejenisnya termasuk tanda-tanda kerasulan Muhammad saw. Dari tanda-tanda itu ia mengetahuinya'".

Allah telah menyebutkan tentang Ahli kitab, bahwa mereka mengetahui tentang Muhammad saw. Yang mana sifat-sifatnya telah disebutkan dalam kitab-kitab mereka, Allah berfirman:


"Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Alkitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui".(Al Baqarah:146).

Wednesday, December 29, 2010

Pas ganti Umno -Imam Bulan

Tuesday, November 23, 2010

Video Mjalis Khatam Al Quran

Login | Facebook: "Facebook is a social utility that connects people with friends and others who work, study and live around them. People use Facebook to keep up with friends, upload an unlimited number of photos, post links and videos, and learn more about the people they meet."

PADERI BERTANYA




Seorang pemuda yang dikejutkan oleh mimpinya supaya pergi ke gereja Samaan. Tiga kali mimpinya itu berulang. Lalu ia bersiap sedia dengan pakaian dan cara yang diberitahu dalam mimpinya.

Ia masuk ke gereja Samaan tanpa disedari oleh Paderi-paderi yang hadir. Dia sama-sama menanti kedatangan ketua Paderi. Setelah ketua Paderi datang, ketua Paderi itu tidak dapat berucap. Dia tahu ada orang lain, orang Islam di dalam gereja itu. Katanya, " ada orang yang percaya kepada Syariat Muhammad di dalam gereja ini."

Semua paderi menjadi gempar dan mereka mahu orang itu di bunuh. Namun ketua paderi menghalang, sebaliknya ketua paderi meminta orang itu bangun supaya mereka dapat mengenalinya.Sebaliknya pemuda itu pun bangun, tanpa rasa takut.

Paderi berkata, "Aku akan mengajukan kepada anda 22 pertanyaan Dan anda harus menjawabnya dengan tepat. "

Si pemuda tersenyum Dan berkata, "Silakan!"

Sang paderi pun mulai bertanya, "Sebutkan satu yang tiada duanya, dua yang tiada tiganya, tiga yang tiada empatnya, empat yang tiada limanya, lima yang tiada enamnya, enam yang tiada tujuhnya, tujuh yang tiada delapannya, delapan yang tiada sembilannya, sembilan yang tiada sepuluhnya, sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh, sebelas yang tiada dua belasnya, dua belas yang tiada tiga belasnya, tiga belas yang tiada empat belasnya."

"Sebutkan sesuatu yang dapat bernafas namun tidak mempunyai ruh! Apa yang dimaksud dengan kuburan berjalan membawa isinya? Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam syurga? Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah namun Dia tidak menyukainya? Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dengan tanpa ayah Dan ibu!"

"Siapakah yang tercipta dari api,siapakah yang diazab dengan api Dan siapakah yang terpelihara dari api? Siapakah yang tercipta dari batu, siapakah yang diazab dengan batu Dan siapakah yang terpelihara dari batu?"

"Sebutkan sesuatu yang diciptakanAllah Dan dianggap besar! Pohon apakah yang mempunyai 12 ranting, setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah naungan Dan dua di bawah sinaran matahari?"

Mendengar pertanyaan tersebut, pemudaitu tersenyum dengan keyakinan kepada Allah.

Setelah membaca Bismillah dia berkata,

-Satu yang tiada duanya ialah Allah s.w.t..

-Dua yang tiada tiganya ialah Malam dan Siang. Allah s.w.t. Berfirman, "Dan Kami jadikan malam Dan siang sebagai dua tanda (kebesaran kami)." (Al-Isra': 12).



-Tiga yang tiada empatnya adalah kesilapan yang dilakukan Nabi Musa ketika Khidir menenggelamkan sampan, membunuh seorang anak kecil Dan ketika menegakkan kembali dinding yang hampir roboh.

-Empat yang tiada limanya adalah Taurat,Injil, Zabur Dan al-Qur'an.

- Lima yang tiada enamnya ialah Solatlima waktu.

-Enam yang tiada tujuhnya ialah jumlahHari ketika Allah s.w.t. Menciptakan makhluk.

-Tujuh yang tiada delapannya ialah Langit yang tujuh lapis. Allah s.w.t. Berfirman, "Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang." (Al-Mulk: 3).

-Delapan yang tiada sembilannya ialah Malaikat pemikul Arsy AR-Rahman. Allah s.w.t. Berfirman, "Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada Hari itu delapan orang malaikat men-junjung 'Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka." (Al-Haqah: 17).

-Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah mu'jizat yang diberikan kepada Nabi Musa yaitu: tongkat, tangan yang bercahaya, angin topan, musim paceklik, katak, darah, kutu Dan belalang.*

-Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh ialah Kebaikan. Allah s.w.t. Berfirman, "Barang siapa yang berbuat kebaikan maka untuknya sepuluh kali lipat." (Al-An'am: 160).

-Sebelas yang tiada dua belasnya ialah jumlah Saudara-Saudara Nabi Yusuf .

-Dua belas yang tiada tiga belasnya ialah Mu'jizat Nabi Musa yang terdapat dalam firman Allah,

"Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, 'Pukullah batu itu dengan tongkatmu.' Lalu memancarlah daripadanya dua belas Mata air." (Al-Baqarah: 60).

-Tiga belas yang tiada empat belasnya ialah jumlah Saudara Nabi Yusuf ditambah dengan ayah Dan ibunya.

-Adapun sesuatu yang bernafas namun tidak mempunyai ruh adalah waktu Subuh. Allah s.w.t. ber-firman, "Dan waktu subuh apabila fajarnya mulai menyingsing. " (At-Takwir: 18).

-Kuburan yang membawa isinya adalah Ikan yang menelan Nabi Yunus AS.

-Mereka yang berdusta namun masuk kedalam surga adalah saudara-saudara Nabi Yusuf , yakni ketika mereka berkata kepada ayahnya, "Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlumba-lumba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barangkami, lalu dia dimakan serigala. " Setelah kedustaan terungkap,Yusuf berkata kepada mereka, " tak ada cercaan terhadap kamu semua." Dan ayah mereka Ya'qub berkata, "Aku akan memohonkan ampun bagi muka pada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ." (Yusuf:98)



-Sesuatu yang diciptakan Allah namun tidak Dia sukai adalah suara Keldai. Allah s.w.t. berfirman, "Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara keldai." (Luqman: 19).

-Makhluk yang diciptakan Allah tanpa bapa dan ibu adalah Nabi Adam, Malaikat, Unta Nabi Shalih dan Kambing Nabi Ibrahim.

-Makhluk yang diciptakan dari api adalah Iblis, yang diazab dengan api ialah Abu Jahal dan yang terpelihara dari api adalah Nabi Ibrahim. Allah s.w.t. berfirman, "Wahai api dinginlah dan selamatkan Ibrahim." (Al-Anbiya': 69).

-Makhluk yang terbuat dari batu adalah Unta Nabi Shalih, yang diazab dengan batu adalah tentara bergajah dan yang terpelihara dari batu adalah Ashabul Kahfi (penghuni gua).

-Sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap perkara besar adalah Tipu Daya wanita, sebagaimana firman Allah s.w.t.? "Sesungguhnya tipu daya kaum wanita itu sangatlah besar." (Yusuf: 28).

-Adapun pohon yang memiliki 12 ranting setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah teduhan dan dua di bawah sinaran matahari maknanya: Pohon adalah Tahun, Ranting adalah Bulan, Daun adalah Hari dan Buahnya adalah Solat yang lima waktu, Tiga dikerjakan di malam hari dan Dua di siang hari.

Paderi dan para hadirin merasa takjub mendengar jawapan pemuda Muslim tersebut. Kemudian dia pun mula hendak pergi. Namun dia mengurungkan niatnya dan meminta kepada paderi agar menjawab satu pertanyaan saja. Permintaan ini disetujui oleh paderi.

Pemuda ini berkata, "Apakah kunci syurga itu?"

mendengar pertanyaan itu lidah paderi menjadi kelu, hatinya diselimuti keraguan dan rupa wajahnya pun berubah. Dia berusaha menyembunyikan kebimbangannya, namun tidak berhasil. Orang-orang yang hadir di gereja itu terus mendesaknya agar menjawab pertanyaan tersebut, namun dia cuba mengelak.

Mereka berkata, "Anda telah melontarkan 22 pertanyaan kepadanya dan semuanya dia jawab, sementara dia hanya memberi cuma satu pertanyaan namun anda tidak mampu menjawabnya! "

Paderi tersebut berkata, "Sesungguh aku tahu jawapannya, namun aku takut kalian marah."

Mereka menjawab, "Kami akan jamin keselamatan anda. "

Paderi pun berkata, "Jawapannya ialah: Asyhadu An La Ilaha Illallah Wa Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah. "

Lantas paderi dan orang-orang yang hadir di gereja itu terus memeluk agama Islam. Sungguh Allah telah menganugerahkan kebaikan dan menjaga mereka dengan Islam melalui tangan seorang pemuda Muslim yang bertakwa.

(Di petik dan disusun dari Mausu'ah al-Qishash al-Waqi'ah )



Sunday, October 31, 2010


Wednesday, September 29, 2010






REFORMASI FATWA ROKOK: DULU KHILAF KINI IJMAK
(Biro IT)

Sejajar dengan kapasiti PAPISMA yang memperjuangkan kesihatan secara menyeluruh, maka salah satu perkara yang sentiasa ditentang oleh PAPISMA ialah tabiat merokok. Sudah tentu masalah merokok ini tidak wujud hanya dengan seorang perokok melainkan ianya melibatkan industri rokok, usahawan rokok, peruncit yang menjual rokok, hasil kerajaan yang diperolehi daripada perniagaan rokok dan sebagainya. Oleh itu, sebagai badan NGO, PAPISMA tentunya tidak mempunyai sebarang kuasa melainkan kuasa memberitahu akan keburukan rokok. Sebagai NGO Islam pula, PAPISMA mempunyai keupayaan untuk memberi nasihat akan hukum rokok dan merokok agar disedari oleh masyarakat Islam. Hukum-hukum ini sangat penting ditekankan kerana hanya dengan approach agama dapat memberi kesedaran yang kekal bagi megatasi masalah ini. Mudah-mudahan mereka akan meninggalkan tabiat buruk sebagai perokok.

Untuk beberapa siri keluaran Buletin PAPISMA Terengganu ini, kami akan memaparkan tajuk sekitar merokok yang dibincangkan secara terperinci. Artikel ini telah disumbangkan oleh sahabat kita iaitu Ustaz Mohd Azhar bin Abdullah, Pensyarah KIAS, Nilam Puri, Kelantan. Artikel ini pula diambil dari laman web Al-Fadhil Ustaz Dr. Abdul Basit b. Abdul Rahman. Berikut adalah artikel tersebut:

Reformasi Fatwa Rokok: Dulu Khilaf Kini Ijma’ - Siri 1 Filed in Artikel - Makalah on Jul.30, 2010

REFORMASI FATWA ROKOK: DULU KHILAF KINI IJMAK

Untuk perbincangan. Artikel ini sebanyak 4 siri.

Siri 1 Fikrah Perokok Terumbang-ambing Antara Mistik, Imperalisme dan Kapitalisme

SELAMA 16 KURUN lamanya umat Islam “buta tembakau”. Umat Islam tidak tahu langsung apa itu tembakau, bagaimana pokok, daun dan batangnya serta untuk apa tembakau itu boleh digunakan. Sepanjang tempoh itu umat Islam bersih dari usaha pendapatan penanaman tembakau dan pencemaran asapnya.

Sementara itu, walaupun mereka bebas dari fenonema tembakau tetapi mereka menghadapi zaman kemunduran. Rata-rata kedudukan politik, ekonomi dan sosial umat Islam pada waktu itu berada pada tahap sangat daif; semakin menurun hari demi hari. Mereka hidup dalam kejumudan, kepompong taklid buta, kegelapan politik dan ketidakstabilan sosial. Tetapi, malangnya umat Islam terus lena diulit ilusi kegemilangan Islam lampau.

Manakala masyarakat barat sebaliknya, di mana mereka menemui sentuhan ketamadunan moden. Selepas keperitan dan pengajaran perang Salib yang berlanjutan hampir 200 telah mengalihkan strategi mereka 180 darjah ke arah pembangunan dalaman, penguasaan ekonomi melalui penemuan-penemuan baru. Mereka nekad menerobos sempadan sejarah gelap ke alam pencerahan dan realiti masa depan yang gemilang walaupun terpaksa bermula dari bawah.
Rentetan penemuan demi penemuan dicapai yang membawa kepada penemuan tembakau pada akhir kurun ke-14 menjadikan gelombang penguasaan ekonomi global kian realistik. Sejak itu, dunia Eropah telah berkembang pesat dengan industri tembakau yang diterajui monopoli kapitalis. Masyarakat barat telah diselubungi fenonema ini selama 200 tahun sebelum merebak ke dunia umat Islam.

Penemuan sejarah mencatatkan penemuan awal rokok dari mitos mistik orang-orang asli benua Amerika. Orang Indian ini menghisap rokok untuk mendapatkan asapnya bagi tujuan pemujaan ruh baik dan menghindarkan ruh jahat.

Menurut catatan “Wikipedia” sewaktu Colombus dan kelasinya menemui pulau Bahamas pada tahun 1429, mereka melihat orang-orang Indian yang memegang sesuatu yang bernyala dan mengeluarkan asap di hujungnya. Mereka menghisap benda itu dan menghembuskan asapnya dengan menggunakan alat seperti paip. Mereka meletakkan tembakau di dalam lubang paip dan menyalakannya untuk mendapatkan asap.

Mereka melakukan demikian kerana berpegang kepada kepercayaan interaksi ghaib ruh baik dan ruh jahat. Mereka sentiasa melakukannya sebagai upacara suci bagi mendapatkan pertolongan ruh agong dan dalam situasi yang sama bermohon dijauhi dari ruh yang tidak baik.

Hakikatnya, ruh jahat atau baik yang dimaksudkan oleh orang Indian itu merupakan makhluk halus dari jenis jin. Percaya atau tidak, makhluk halus di dunia ini hanya dua sahaja iaitu malaikat yang diciptakan dari nur dan kedua jin yang dijadikan dari unsur api.

Dr. Salah al-Khalidi dalam “al-Qasas al-Qur’ani” menyatakan bahawa malaikat dan jin merupakan makhluk alam ghaib, iaitu ghaib dari alam nyata manusia sahaja. Manusia tidak melihat mereka dengan mata kasar tetapi mereka hidup dan wujud di sekeliling kita.

Tambahnya lagi, asal-usul jin dari “al-Samum” seperti penjelasan surah al-Hijr, ayat 27, maksudnya; “Dan kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas”. Hakikat “api yang sangat panas” itu disebut dalam al-Quran sebagai “al-Samum”. “al-Samum” pula terbentuk dari “al-Marij” iaitu gabungan dua juzuk api. Pertama; diambil dari satu juzuk yang terakhir dari kepanasan api yang mengeluarkan sinaran api dan kedua, juzuk asap hitam yang dijulang api marak. Intergrasi kedua-dua juzuk inilah diciptakan jin.

Menurut keterangan “Ensiklopedia Islam” golongan malaikat semuanya baik belaka, taat, beriman dan tidak sekali mengganggu manusia, malah mendatangkan rahmat. Manakala golongan jin terbahagi kepada dua; jin beriman dan kedua jin kafir yang disebut juga syaitan dan iblis yang tentunya membuat kacau dan memperdaya manusia dari hidayat Allah. Justeru, mitos mistik orang Indian itu berkait rapat dengan anutan kuasa ghaib yang bertentangan dengan Islam.

Pembakaran seumpama colok dan kemenyan untuk mendapatkan asap sebenarnya mengandungi elemen penyeruan makhluk halus kerana unsur asap sinonim dengan kejadian jin. Dikatakan bahawa jin bukan sahaja makan sisa tulang dan makanan tetapi juga begitu teruja dengan asap.

Sehubungan itu, tidak jauh kebenarannya jika Ustaz Dato’ Haji Ismail Kamus dalam satu ceramahnya berseloroh bahawa orang yang hisap rokok perlu hati-hati kerana asap yang dihasilkan itu mampu menarik minat jin. Katanya; “Jin dijadikan dari asap dan makan dari unsur asap seperti manusia dijadikan dari tanah yang makan dari unsur kejadian tanah. Maka orang yang hisap rokok sebenarnya kawan jin”. Kenyataan ini memberikan signal tersirat apakah pengaruh asap yang menjadi makanan jin ini juga salah satu faktor menyulitkan usaha “menalak tiga” rokok. Keadaan ini membuat perokok begitu liat dan sukar memberikan keikhlasan suci untuk membuang jauh-jauh tabiat rokok.
Namun, saya yakin niat perokok bukan mendampingkan diri dengan jin. Mereka menyalakan rokok semata-mata mendapatkan kenikmatan candu dalam kandungan asap rokok. Dalam cita-cita perokok asap itu adalah kemuncak kelazatan. Tiada rokok tanpa asap. Banyak benda lain yang berasap tapi tidak seindah rokok.

Sebab itu soal hubungan jin, pembaziran duit dan efek racun dalam rokok yang disahkan pakar perubatan mengandungi lebih kurang 4000 racun yang membawa penyakit tahap berbahaya dan maut sehingga laporan Organisasi Kesihatan Dunia (WHO) menganggarkan 4.9 juta manusia mati setahun akibat rokok merupakan perkara sampingan, malah sesuatu yang tidak dapat dielakkan bagi perokok. Mereka rela apa saja demi rokok!

Suatu perkara sampingan yang perlu disentuh berkaitan asap dalam kesempatan itu juga ialah fatwa Jabatan Mufti Melaka menegaskan jika asap yang dihasilkan samada dari rokok, colok dan kemenyan dalam bentuk perbomohan, penyeruan dan perubatan tradisional dengan maksud mendampingi dan meminta bantuan makhluk ‘ghaib’ adalah bercanggah dengan akidah Islam.

Sejarah kepesatan perusahaan tembakau secara jelas disaksikan apabila ahli korporat besar bernama Rodrigo De Jares merintis perniagaan tembakau, khususnya perusahaan rokok di Cuba. Pada tahun 1556-1558 rokok mula diperkenalkan ke Perancis, Sepanyol dan Portugal sehingga tersebarlah ke seluruh dunia.

Dilaporkan, selepas orang-orang Sepanyol berjaya mempromosikan tembakau ke Eropah, terutama kepada golongan bangsawan British yang menghisap tembakau dengan paip pada waktu rehat telah melonjakan aktiviti penanaman tembakau sebagai komuniti ekonomi negeri-negeri jajahan British yang bermula di Amerika Utara.

Usaha kapitalis melalui selendang imperealis semakin berjaya. Pada tahun 1630-an hasil tembakau memberikan loba besar bagi negeri Virginia. Akibatnya, fenonema tembakau tidak dapat disekat lagi, kian pesat pada abad ke-17.

Serentak dengan itu, pedagang Eropah memperkenalkan tembakau ke seluruh Asia dan Afrika. Kemudian dalam abad ke 19 orang-orang Sepanyol memperkenalkan cerut ke Asia melalui tanah Filipina dan kemudian ke Rusia dan Turki serta tidak terkecuali ke dalam negeri-negeri Islam, terutama tanah jajahan mereka.

Dr. Yusuf al-Qardawi dalam ‘Fatawa Mu’asarah’ dan mantan Syeikh al-Akbar Mesir, Jad al-Haq Ali Jad al-Haq dalam fatwanya mengatakan tembakau dan rokok masuk ke bumi umat Islam lewat ke-11 Hijrah, khususnya di Maghribi, Sudan, kemudian berkembang ke negeri-negeri lain. Ertinya, selama 100 tahun umat Islam tidak mempunyai apa-apa hubungan dengan tembakau, apatah lagi rokok.

Justeru, aneh sekali umat Islam di negara ini yang masih koma dengan hakikat rokok. Sehingga kini, masih ramai yang menyangka sigaret muncul dari sejarah melayu silam. Mereka merumuskan demikian kerana tembakau yang dilihat begitu sinonim dengan kebudayaan melayu sejak berzaman menggunakan sireh, buah pinang dan daun nipah merupakan salah satu tumbuhan asli tropika yang tumbuh di rantau ini.

Ini satu kekeliruan. En. Mohd Fakri bin Mohd Noor, PRO Lembaga Tembakau Negara, Kota Bharu Kelantan yang telah berkhidmat hampir 20 tahun berkata tembakau bukan tumbuhan asal rantau ini. Tumbuhan tembakau seperti juga getah dibawa masuk ke Tanah Melayu seringi penjajahan Inggeris.

Sumber Lembaga Tembakau Negara melaporkan industri tembakau di Malaysia bermula dengan tembakau cerut yang ditanam secara meluas di Sabah sejak awal abad kesembilan belas, setelah didapati penanamannya berjaya diusahakan pada tahun 1883. Pada satu ketika ianya menarik minat lebih dari lima puluh pengusaha dari Eropah dan mencapai nilai eksport sebanyak RM2 juta pada tahun 1902.

Selepas perang dunia kedua, khususnya di tahun 1959 usaha meningkatkan tanaman tembakau telah dilaksanakan secara serius. Di pertengahan 1970-an pula penanaman tembakau berkembang maju di Kelantan, Terengganu, Kedah, Perlis, Pahang dan lain-lainnya di negeri Melaka, Negeri Sembilan dan Johor.

Berdasarkan fakta di atas menunjukkan industri tembakau dan rokok mempunyai hubungan yang erat dengan gerakan penjajahan barat ke atas bumi umat Islam, khususnya Yahudi melalui dasar kapitalisme.

Kegilaan kapatilis yang didalangi oleh golongan elit Yahudi yang mementingkan kekayaan semata-mata mengenepikan soal moral sama sekali. Mereka tidak mempersoalkan langsung keburukan rokok, malah mengeksplotasi dari elemen ketagihan rokok sebagai aset melariskan perniagaan rokok. Adapun penjajahan tidak lebih dari wasilah demi merealisasikan matlamat itu.

Kemunculan rokok hakikatnya membawa malapetaka dan kemusnahan besar kepada dunia samada barat dan timur. Namun kapitalis tidak memperdulikan kesan itu kepada manusia walaupun usaha-usaha pengharaman penanaman tembakau dan rokok dijalankan pemerintah. Mereka sentiasa melancarkan propaganda tentang keistimewaan rokok yang didakwa mampu melancarkan darah, memenangkan tekanan darah, baik untuk usus dan sebagainya.

Menurut fakta buku “Rokok Haram atau Makruh dan Penawar atau Pembunuh” yang ditulis oleh Muhammad Abu Faroq al-Athari menyebut bahawa Raja Inggeris bernama Jims 1 mengambil langkah drastik mengharamkan rokok. Raja ini juga melancarkan operasi besar-besaran memusnahkan tembakau secara habis-habisan serta mengeluarkan satu perintah berupa undang-undang pengharaman rokok pada tahun 1604M.

Kemudaratan rokok jelas menghancurkan generasi manusia sehingga pada tahun 1643M kerajaan Rusia telah meluluskan undang-undang berat di mana sesiapa yang membeli, menjual, mengedar dan menghisap rokok dari tembakau akan dihukum dengan dibuang negeri ke Siberia atau dihukum mati.

Bersambung ke siri ke-2...

Petikan dari PAPISMA TRG.

Sunday, September 19, 2010

Contoh Terdahulu
















Allah berfirman: "Orang-orang yang telah Kami berikan Alkitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barang siapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi".(Al-Baqarah:121)

Ayat ini mengandung hal-hal sebagai berikut:

1. Sifat sahabat-sahabat Nabi dalam mengikuti Alquran dan mengamalkannya.
Abdullah bin Abbas berkata: "Mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya." Ia berkata, "Maksudnya adalah mengikuti Alquran dengan yang sebenar-benarnya, menghalalkan apa yang telah dihalalkan, dan mengharamkan apa yang telah diharamkan serta tidak menyelewengkannya dari tempat-tempatnya."

Qatadah berkata: "Mereka itulah sahabat-sahabat Muhammad saw. yang telah beriman kepada kitab Allah dan membenarkannya, menghalalkan yang telah dihalalkan dan mengharamkan yang telah diharamkan, serta mengamalkan apa yang ada di dalamnya."

2. Alquran diturunkan untuk direnungkan dan diamalkan.

3. Menganjurkan seorang muslim agar meneladani para pendahulunya, yaitu para sahabat Rasul dan tabiin dalam merenungkan kitab Allah, mempelajarinya dan mengamalkan apa yang ada di dalamnya.

Tafsir Thabari, jilid 1, halaman 518-520
Pentingnya Orang Kepercayaan (Bithanah) Yang Saleh


Pentingnya Orang Kepercayaan (Bithanah) Yang Saleh

عن أبي سعيد الخدري -رضي الله عنه- عن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال:
( ما بعث الله من نبي ولا استخلف من خليفة إلا كانت له بطانتان: بطانة تأمره بالمعروف وتحضه عليه، وبطانة تأمره بالشر وتحضه عليه، فالمعصوم من عصم الله تعالى )
البخاري (ح 7198)


Dari Abu Sa'id bin Al-Khudri ra. dari Nabi saw. berkata: "Allah tidak akan mengutus seorang nabi dan tidak akan memilih seorang khalifah melainkan di sekitarnya dua tip orang kepercayaan, orang kepercayaan yang senantiasa menganjurkan dan mendorongnya untuk berbuat baik, dan pembantu yang menyuruh dan mendorongnya untuk berbuat buruk. Maka orang yang selamat adalah orang diselamatkan oleh Allah. Bukhari, 7198.

Al-Bithanah adalah Ad-Dukhala' bentuk jamak dari kata dakhil, yang berarti orang yang dapat masuk ke dalam kamar pribadi pemimpin, dan pemimpin memberitahukan rahasianya kepadanya, mempercayai semua laporannya tentang keadaan rakyat, serta bertindak berdasarkan laporan tersebut.

Hadis ini mengandung hal-hal berikut:

1. Segala sesuatu hanya Allah yang menetapkan. Dialah yang menyelamatkan hamba-hamba yang dikehendaki-Nya dengan karunia dan kecurahan-Nya.

2. Hubungan antara para pemimpin dengan orang-orang kepercayaannya ada tiga tip:
- Pemimpin yang selalu menerima dari orang kepercayaannya saran-saran yang baik dan tidak pernah menerima saran-saran yang buruk. Hal ini hanya pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, karena beliau adalah orang yang ma'shum.

- Pemimpin yang selalu menerima dari orang kepercayaannya saran-saran yang buruk dan tidak pernah menerima saran-saran yang baik. Hal ini terkadang dijumpai terutama bila pemimpin itu adalah orang kafir.

- Pemimpin yang terkadang menerima dari orang kepercaannya saran-saran yang baik, dan terkadang menerima saran yang buruk.

Di dalam hadis terdapat peringatan bagi para pemimpin yang menangani urusan kaum muslimin untuk memilih menteri yang saleh, sebagaimana diriwayatkan oleh Ummul Mu'minin Aisyah radhiallahu 'anha dalam sebuah hadis marfu':

"Barang siapa di antara kalian yang menjadi pemimpin dan Allah menghendaki kebaikan dalam tugasnya itu, maka Dia akan menjadikan baginya seorang menteri yang saleh, yang mengingatkannya apabila ia lupa dan membantunya ketika ia ingat.

Lihat Fathul Bari, jilid 13, halaman 189, 191.

Friday, September 10, 2010

Saturday, August 21, 2010

PALESTIN


Beberapa Akhlak Para Rasul















Allah berfirman: "Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah)" (Huud: 75)

Keterangan dan kandungan ayat:
Allah memberitakan tentang sifat-sifat Nabi Ibrahim alaihissalam bahwa dia:
Penyantun, yaitu; pemilik akhlak yang baik, lapang dada, dan tidak marah apabila mendapat perlakuan buruk/jahat dari orang yang bodoh.

Awwah, yaitu; menghiba atau memohon seraya merendahkan diri kepada Allah di setiap waktu.

Munib, yaitu selalu kembali kepada Allah dengan mengenali-Nya, mencintai-Nya, menghadap kepada-Nya dan berpaling dari yang lain.

Lihat Tafsir Ibnu Sa'di, halaman 342 (cetakan Luwaihiq)

Ibnul Qayyim mengatakan: Orang yang kembali kepada Allah adalah yang cepat-cepat mencari keridaan-Nya, kembali kepada-Nya di setiap waktu, dan menghampiri kecintaan-Nya.

Selanjutnya kembali kepada Allah mengandung empat hal:
Cinta kepada Allah, tunduk kepada Allah, menghampiri-Nya, dan berpaling dari yang lain-Nya.

Dari itu seseorang tidak dinamakan al-Munib (orang yang kembali kepada Allah) jika tidak mempunyai empat sifat itu.
Lihat Madarijus Salikin, jilid 1, halaman 457, cetakan Darul Kutub Ilmiah.
________________________________________

Amanat


عن أبي ذر -رضي الله عنه- قال:
( قلت: يا رسول الله ألا تستعملني؟ قال: فضرب بيده على منكبي ثم قال: يا أبا ذر إنك ضعيف، وإنها أمانة، وإنها يوم القيامة خزي وندامة، إلا من أخذها بحقها، وأدى الذي عليه فيها )
وفي لفظ آخر: ( يا أبا ذر إني أراك ضعيفا، وإني أحب لك ما أحب لنفسي. لا تأَمَّرنَّ على اثنين ولا تولَّينَّ مال يتيم )
مسلم (1825 ، 1826)


Dari Abu Zar ra. dia berkata: Aku berkata: Wahai Rasulullah tidakkah engkau limpahkan suatu tugas (jabatan) kepadaku? Dia berkata: Beliau menepuk-nepuk kedua bahuku dengan tangannya, kemudian bersabda: Wahai Abu Zar, kamu lemah, dan ini adalah amanat yang mana pada hari kiamat akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan benar dan melaksanakan apa yang telah diamanatkan kepadanya.
Dalam lafal lain: Wahai Abu Zar, sesungguhnya aku melihatmu sangat lemah dan aku sangat menyukai untuk dirimu apa-apa yang aku sukai untuk diriku. Kamu tidak akan ditunjuk untuk menghakimi dua orang yang bertikai dan menjadi wali harta anak yatim (Muslim, 1825, 1826).

Nawawi berkata (dalam Penjelasan Sahih Muslim, jilid 12, halaman 210): Hadis ini adalah dalil yang menerangkan tentang menghindari kekuasaan, apalagi bagi orang yang di dalam dirinya terdapat kelemahan untuk menjalankan tugas-tugas kekuasaan itu. Kehinaan dan penyesalan itu akan diterima orang-orang yang bukan ahlinya, atau bagi orang yang ahlinya tetapi dia tidak adil dalam menjalankannya, maka Allah akan menghinakannya pada hari kiamat, dan memberikan penyesalan atas apa yang disia-siakannya. Adapun orang yang layak untuk menjalankan kekuasaan dan berlaku adil dalam menjalankannya, maka dia akan mendapatkan keutamaan yang sangat besar yang ditunjukkan oleh hadis-hadis yang sahih dan kesepakatan para ulama tentangnya.

Namun di samping itu karena banyaknya tanggungjawab yang ada di dalamnya, maka Rasulullah memperingatkan Abu Zar dan begitu juga memperingatkan para ulama. Sebagian para salaf tidak mau menerimanya dan bersabar atas siksaan yang menimpa mereka pada saat mereka tidak mau menerimanya.

Thursday, August 12, 2010

BUAH KEMBALI KEPADA ALLAH






Allah berfirman: "untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah)" (Qaaf: 8)

Keterangan dan kandungan ayat:
Ayat ini disebutkan setelah firman Allah swt.: "Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun? Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata) (Qaaf: 6, 7)

Dalam ayat ini terdapat isyarat bahwa ketelitian, kekokohan dan kekuatan yang terdapat dalam ciptaan yang memukau itu adalah bukti kesempurnaan kekuasaan Allah swt.
Sedangkan kebaikan dan keindahan buatan dan ciptaan itu adalah bukti bahwa Allah adalah hakim yang paling adil dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Adapun manfaat, dan kemaslahatan hamba yang ada padanya adalah bukti rahmat Allah yang menyeluruh kepada semua makhlukNya, dan kepemurahan-Nya yang mencakup semua yang hidup. Agungnya ciptaan dan rapinya aturan adalah bukti bahwa Allah benar-benar Esa, Tempat bersandar, tidak mempunyai isteri, tidak mempunyai anak, tidak ada sesuatu yang menyamai-Nya dan tidak ada satupun yang patut disembah, ditakuti dan dicintai kecuali diri-Nya.

Ayat di atas menunjukkan bahwa memikirkan hal-hal itu adalah pembuka mata dari kebodohan dan pengingat kepada segala sesuatu yang bermanfaat bagi agama dan dunia serta pengingat kepada hal-hal yang diberitakan oleh Allah dan para rasul-Nya. Tetapi semua itu tidak akan tercapai jika bukan merupakan buah kembali kepada Allah dengan mengharap kepada-Nya dengan penuh cinta, takut, dan harap kepadaNya serta memenuhi seruan orang-orang yang menyeru kepadaNya. Adapun orang yang berpaling, maka ayat-ayat dan berbagai peringatan tidak akan berguna bagi mereka yang tidak beriman.

Lihat Tafsir Sa'di, halaman 747 (cetakan Luwaihiq)
________________________________________



Beberapa Tanda Kenabian Muhammad saw.


عن أبي سفيان بن حرب -رضي الله عنه- في قصته مع هرقل أن هرقل قال:
( وسألتك بم يأمركم؟ فذكرت أنه يأمركم أن تعبدوا الله ولا تشركوا به شيئا، وينهاكم عن عبادة الأوثان، ويأمركم بالصلاة والصدق والعفاف. فإن كان ما تقول حقا فسيملك موضع قدمي هاتين )
الحديث (البخاري ح 7) ، (مسلم ح 1773)



Dari Abu Sufyan ra. dalam kisahnya dengan Hiraklius. Hiraklius Berkata: "Aku bertanya kepadamu, 'Apa yang dia perintahkan kepadamu?' kamu menjawab bahwa dia memerintahkanmu menyembah Allah, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatupun dan melarang kalian menyembah berhala, memerintahkan kamu sekalian mengerjakan salat, jujur, dan 'iffah. Bila apa yang kamu katakan ini benar, maka ia akan menguasai tempat pijakan dua kakiku ini.(Diriwayatkan oleh Bukhari, 6. Dan Muslim, 1773)

'Afaf adalah menahan diri dari sesuatu yang haram dan perangai yang tidak terpuji.

Nas hadis di atas adalah sebagian dari sebuah hadis yang panjang, yang mencakup pokok-pokok ajakan Muhammad saw. untuk menganut Ajaran tauhid. Yaitu dengan tulus ikhlas hanya menyembah Allah semata, melarang menyembah selain-Nya, mengajak melakukan salat dan perintah-perintah dalam Islam lainnya. Juga mengandung kebenaran yang ditemukan oleh Hiraklius setelah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada Abu Sufyan ra, bahwa semua itu merupakan sifat-sifat Rasulullah saw yang terdapat dalam kitab-kitab yang diturunkan kepada Nabi-nabi mereka.

Nawawi dalam kitabnya "Syarah Sahih Muslim, jilid 12, halaman 107 mengatakan: "Para ulama berkata: 'Apa yang dikatakan oleh Hiraklius, diambilnya dari kitab-kitab lama, di dalam Taurat sifat ini dan sejenisnya termasuk tanda-tanda kerasulan Muhammad saw. Dari tanda-tanda itu ia mengetahuinya'".

Allah telah menyebutkan tentang Ahli kitab, bahwa mereka mengetahui tentang Muhammad saw. Yang mana sifat-sifatnya telah disebutkan dalam kitab-kitab mereka, Allah berfirman: "Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Alkitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui".(Al Baqarah:146).

Monday, August 9, 2010

PUASA

Wednesday, August 4, 2010

Kabar Gembira Khusus Untuk Orang Yang Kembali Kepada Allah















Allah berfirman: "Dan orang-orang yang menjauhi tagut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku) (Az-Zumar: 17)

Keterangan dan kandungan ayat:

Maksud Tagut adalah sesembahan selain Allah.
Kaum mukminin berhak mendapatkan kabar gembira ini karena menghindari penyembahan terhadap tagut, karena menghindari penyembuhan tagut ini adalah sifat yang terpuji. Mereka juga berhak mendapatkannya karena kembali kepada Allah dengan menyembah dan ikhlas beragama kepada-Nya. Dengan demikian, keinginannya untuk menyembah berhala berpindah kepada penyembahan kepada Allah dan keinginannya untuk berbuat syirik beralih kepada tauhid dan ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu semua, mereka berhak mendapatkan kabar gembira yang tidak diketahui kadar dan nilainya kecuali oleh Dzat Yang memberi mereka kehormatan tersebut.

Kabar gembira itu mencakup:

Kabar gembira di dunia yang berupa pujian baik, mimpi baik, pemeliharaan dari Allah yang melaluinya mereka dapat mengetahui bahwa Dia berkehendak untuk memuliakan mereka di dunia dan di akhirat.

Mencakup kabar gembira di akhirat saat meninggal, di kubur, dan hari kiamat.
Dan kabar gembira terakhir adalah yang disampaikan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah mengenai anugerah keridaan, kebaikan, dan rasa aman di surga.
Lihat Tafsir Ibnu Sa'di, halaman 656 (cetakan Luwaihiq)
________________________________________

Setiap Perbuatan Baik Adalah Sedekah


عن أبي موسى الأشعري -رضي الله عنه-قال:
( قال النبي -صلى الله عليه وسلم- على كل مسلم صدقة، قالوا: فإن لم يجد؟ قال فيعمل بيديه فينفع نفسه ويتصدق، قالوا فإن لم يستطع أو لم يفعل؟ قال: فيعين ذا الحاجة الملهوف، قالوا فإن لم يفعل؟ قال: فليأمر بالخير أو قال بالمعروف، قالوا: فإن لم يفعل؟ قال فليمسك عن الشر فإنه له صدقة)
البخاري ح (6022) ، مسلم ح (1008)


Diriwayatkan dari Abu Musa radhiallahu 'anhu: Bahwa Rasulullah shallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Setiap muslim itu harus bersedekah", para sahabat bertanya: "Bagaimana jika dia tidak memiliki sesuatu (harta) yang akan disedekahkannya?" Beliau menjawab: "Hendaklah ia bekerja hingga memperolehi hasil yang bermanfaat bagi dirinya dan dengannya ia dapat bersedekah", mereka bertanya lagi: "Jika ia tidak sanggup melakukannya?" Rasulullah menjawab: "Hendaklah ia membantu orang yang memerlukan pertolongan", mereka kembali bertanya: "Jika hal itu tidak sanggup ia lakukan?" Rasulullah menjawab: "Hendaklah ia memerintahkan suatu kebaikan" mereka bertanya: "Jika itupun tidak sanggup ia lakukan?" Rasulullah menjawab: "Hendaklah ia menahan diri dari berbuat mungkar dan itu merupakan sedekah baginya." (Diriwayatkan oleh Bukhari (no hadis 6022) dan Muslim (no hadis 1008)

• Setiap Muslim harus bersedekah: yaitu dalam hal yang berhubungan dengan akhlak yang mulia. Dan secara ijma' dikatakan bahwa hal itu bukan merupakan fardu. Makna asal sedekah adalah harta yang dikeluarkan oleh seseorang secara sukarela. Namun adakalanya diartikan dengan sedekah wajib, karena pemilik harta selalu menjaga ketulusan (shidq) dengan sedekahnya ini.

• Hadis ini menunjukkan bahwa segala kebaikan yang diperbuat atau diucapkan oleh seseorang niscaya akan ditulis sebagai suatu sedekah. Begitu pula dengan menahan diri dari perbuatan mungkar.


• Di dalam hadis ini terdapat dorongan untuk bekerja, agar seseorang memperoleh hasil yang dengannya ia mampu menafkahi dirinya dan bersedekah, serta menjauhkannya dari kehinaan meminta-minta.

• Di dalamnya terdapat perintah untuk melakukan kebaikan sedapat mungkin, dan bahwa orang yang bertujuan untuk melakukan perbuatan baik, kemudian dia mendapatkan kesulitan, maka hendaknya dia berpindah kepada perbuatan baik lainnya.

Wednesday, July 28, 2010

KEPADA SIAPA SYURGA ITU DIDEKATKAN





Allah berfirman: "Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya)."
(Qaaf: 31 - 33)


Keterangan dan kandungan ayat:

Firman Allah Ta'ala "Dan didekatkanlah surga itu" maksudnya: Didekatkan jaraknya sehingga semua nikmat dan kesenangannya yang kekal dapat dilihat dengan kasar mata. Yaitu kepada mereka yang bertakwa dan mentaati semua perintahNya, yang meninggalkan segala bentuk syirik, baik kecil maupun besar.


Maksud firman Allah: "Inilah yang dijanjikan kepadamu": adalah bahwa surga dan segala bentuk kesenangan yang diinginkan setiap diri, dan menyejukkan mata yang memandang yang ada di dalamnya adalah hal yang dijanjikan Allah kepada yang memiliki sifat-sifat berikut:

1. Selalu kembali kepada Allah pada setiap waktu dengan mengingat-Nya, mencintai-Nya, meminta tolong kepada-Nya, berdoa, takut, dan berharap kepada-Nya.
2. Memelihara semua apa yang diperintahkan Allah, dengan melaksanakannya secara ikhlas, dan menyempurnakannya sesempurna mungkin, dan menjaga hukum-hukumnya.
3. Takut kepada Yang Maha Pemurah ketika jauh penglihatan manusia: Yaitu takut kepada-Nya karena ma'rifahnya tentang Tuhannya, berharap kasih sayang-Nya, dan tetap melakukan semua itu pada saat sepi tidak dilihat oleh orang lain. Inilah takut yang sebenarnya. Adapun takut pada saat dilihat orang banyak bisa jadi hanya karena riya dan sum'ah. Tetapi ada kemungkinan yang dimaksud takut kepada Allah dalam keadaan gaib ini berarti seperti beriman kepada hal-hal gaib yang lain.
4. Yang datang kepada TuhanNya dengan hati penuh taubat dan segala keinginannya selalu tertuju kepada keridaanNya. Kepada orang-orang yang bertakwa dan berbakti ini dikatakan: "Masuklah dengan damai, itu adalah hari kekekalan..
Lihat Tafsir Ibnu Sa'di, halaman 749 (cetakan Luwaihiq)


Keutamaan Amanat


عن أبي موسى الأشعري -رضي الله عنه- عن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال:
( إن الخازن المسلم الأمين الذي يُـنْـفِـذُ (وربما قال يعطي) ما أمر به فيعطيه كاملا موفرًّا طيبةً بها نفسه فيدفعه إلى الذي أمر له به، أحد المتصَـدِّقِين )
البخاري ح (1438) ، مسلم ح (1023)


Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiallahu 'anhu, bahwa Nabi shallalu 'alaihi wasallam bersabda: "Termasuk salah seorang pemberi sedekah: Seorang bendahara Muslim yang jujur yang menyampaikan (menyalurkan) amanat kepada orang yang telah diamanatkan kepadanya secara sempurna dan dengan kerelaan hati (ikhlas)." (Diriwayatkan oleh Bukhari hadis no. 1438 dan Muslim hadis no. 1023.)

Makna hadis ini adalah bahwasanya orang yang membantu dalam melakukan (merealisasikan) ketaatan (contohnya: orang yang menampung dan menyalurkan infak/sedekah - pen) akan mendapat pahala sebagaimana orang yang melakukan ketaatan memperoleh pahala. Hal ini bukan berarti orang yang melakukan ketaatan tadi terkurangi pahalanya, akan tetapi masing-masing mendapat bagian pahala berdasarkan amalan yang mereka usahakan dan tidak mesti kadar pahala tersebut di bahagi sama . Artinya si pemberi sedekah mendapatkan pahala berdasarkan harta yang telah dia infakkan dan orang yang ditugaskan menyalurkan sedekah dan menjalankan tugas dengan amanahpun memperoleh pahala berdasarkan usahanya tanpa mengurangi pahala si pemberi sedekah sedikitpun.

Imam Nawawi, dalam kitabnya, Syarah Sahih Muslim, jilid 2, hal 202, mengatakan: "Ketahuilah bahwa seorang amil (penyalur sedekah) atau bendahara dalam pelaksanaan tugasnya harus mendapatkan izin dari pemilik harta terlebih dahulu, jika tidak, bukannya yang akan dia peroleh, malah dia akan menuai dosa."
Ibnu Hajar berkata (dalam Fathul Bari, 3/203): "Bendahara yang dimaksud harus memenuhi kriteria berikut: Pertama, Muslim, seorang kafir tidak termasuk dalamnya, karena niatnya bukan karena Allah. Kedua, jujur, maka seorang pengkhianat tidak termasuk dalam kategori ini, karena dia adalah orang yang berdosa. Ketiga, ikhlas karena Allah, karena tanpa keikhlasan usahanya akan sia-sia.