SALAM AIDIL FITRI

SALAM AIDIL FITRI

SELAMAT DATANG. KE BLOG SURAU AL ANSAR GP.

" AGAMA ITU ADALAH NASIHAT "

ULAMA ITU PEWARIS NABI


Wednesday, March 2, 2011

SURAH ALFATIHAH



( klip imej untuk besarkan )

AL FAATIHAH

(Pembukaan)


MUQADDIMAH


Surah "Al Faatihah" (Pembukaan) yang diturunkan di Mekah dan terdiri dari 7 ayat adalah surah yang pertama-tama diturunkan dengan lengkap di antara surah-surah yang ada dalam Al Qur’an dan termasuk golongan Surah Makkiyyah.

Surah ini disebut "Al Faatihah" (Pembukaan), karena dengan surah inilah dibuka dan dimulainya Al Qur’an.

Dinamakan "Ummul Qur’an" (ibu atau induk Al Qur’an) atau "Ummul Kitaab" (ibu atau induk Al Kitaab) karena dia merupakan induk bagi semua isi Al Qur’an, serta menjadi inti sari dari kandungan Al Qur’an dan karena itu diwajibkan membacanya pada tiap-tiap shalat. Dinamakan pula "As Sab’ul matsaany" (tujuh yang berulang-ulang) karena ayatnya tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam shalat.

Surah ini mengandungi beberapa unsur pokok yang mencerminkan seluruh isi Al Qur’an, yaitu:

1. Keimanan:

Beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa terdapat dalam ayat 2, di mana dinyatakan dengan tegas bahwa segala puji dan ucapan syukur atas sesuatu ni’mat itu bagi Allah, karena Allah adalah Pencipta dan sumber segala ni’mat yang terdapat dalam alam ini.
Di antara ni’mat itu ialah: ni’mat menciptakan, ni’mat mendidik dan menumbuhkan, sebab kata "Rabb" dalam kalimat "Rabbul-’aalamiin tidak hanya berarti "Tuhan" dan "Penguasa", tetapi juga mengandung arti tarbiyah yaitu mendidik dan menumbuhkan.
Hal ini menunjukkan bahwa segala ni’mat yang dilihat oleh seorang dalam dirinya sendiri dan dalam segala alam ini bersumber dari Allah, karena Tuhanlah Yang Maha Berkuasa di alam ini. Pendidikan, penjagaan dan penumbuhan oleh Allah di alam ini haruslah diperhatikan dan difikirkan oleh manusia sedalam-dalamnya, sehingga menjadi sumber pelbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat menambah keyakinan manusia kepada keagungan dan kemuliaan Allah, serta berguna bagi masyarakat. Oleh karena keimanan (ketauhidan) itu merupakan masalah yang asas, maka di dalam surah Al Faatihah tidak cukup dinyatakan dengan isyarat saja, tetapi ditegaskan dan dilengkapi oleh ayat 5, yaitu: Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin (hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan).

Yang dimaksud dengan "Yang menguasai hari pembalasan" ialah pada hari itu Allahlah Yang berkuasa, segala sesuatu tunduk kepada kebesaran-Nya sambil mengharap ni’mat dan takut kepada siksaan-Nya.
Hal ini mengandung arti janji untuk memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk. "Ibadat" yang terdapat pada ayat 5 semata-mata ditujukan kepada Allah, selanjutnya lihat catatan ayat 5 surat Al Faatihah.


2. Hukum-hukum:


Jalan kebahagiaan dan bagaimana seharusnya menempuh jalan itu untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Maksud "hidayah" di sini ialah hidayah yang menjadi sebab dapatnya keselamatan, kebahagiaan dunia dan akhirat, baik yang mengenai keyakinan maupun akhlak, hukum-hukum dan pelajaran.


3. Kisah-kisah:

Kisah para nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang Allah. Sebahagian besar dari ayat-ayat Al Qur’an memuat kisah-kisah para nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang Allah. Yang dimaksud dengan orang yang diberi ni’mat dalam ayat ini, ialah para nabi, para shiddieqiin (orang-orang yang sungguh-sungguh beriman), syuhadaa (orang-orang yang mati syahid), shaalihiin (orang-orang yang saleh).
Orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat, ialah golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.


Perincian dari yang telah disebutkan di atas terdapat dalam ayat-ayat Al Qur’an pada surat-surat yang lain.

AL-FAATIHAH (PEMBUKAAN)
Surat ke 1 : 7 ayat
JUZ 1



1. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (a)

(a) Berarti: saya memulai membaca Al Faatihah ini dengan menyebut nama Allah. Tiap-tiap pekerjaan yang baik itu hendaknya dimulai dengan menyebut nama Allah, seperti: makan, minum, menyembelih binatang untuk dimakan dan sebagainya. Allah ialah nama Zat yang Maha Suci, yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya; yang tidak memerlukan makhluk-Nya, tetapi makhluk memerlukankan-Nya. Ar Rahmaan (Maha Pemurah): salah satu dari nama Allah, yang memberi pengertian bahwa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya, sedang Ar Rahiim (Maha Penyayang) memberi pengertian, bahwa Allah senantiasa bersifat rahmat yang menyebabkan Allah selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.

2. Segala puji (a) bagi Allah, Tuhan semesta alam (b)

(a) Alhamdu (segala puji). Memuji orang adalah karena perbuatannya yang baik yang dikerjakan dengan kemahuannya sendiri. Maka memuji Allah berarti: menyanjung-Nya karena perbuatan-Nya yang baik. Lain halnya dengan syukur yang berarti: mengakui keutamaan seseorang terhadap ni’mat yang diberikannya. Kita menghadapkan segala puji kepada Allah ialah karena Allah adalah sumber dari segala kebaikan yang patut dipuji.

(b) Rabb (Tuhan) berarti: Tuhan yang dita’ati Yang Memiliki, Mendidik dan Memelihara. Lafazh "rabb" tidak dapat dipakai selain untuk Tuhan kecuali kalau ada sambungannya, seperti: rabbul-bait (tuan rumah). `Alamin (semesta alam): semua yang diciptakan Tuhan yang terdiri dari berbagai-bagai jenis dan macam, seperti: alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya. Allah Pencipta semua alam-alam itu.

3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,

4. Yang menguasai (a) hari pembalasan (b)

(a) Maalik (Yang menguasai), dengan memanjangkan "mim" ia berarti: pemilik (yang empunya). Dapat pula dibaca dengan Malik (dengan memendekkan "mim") berarti raja.

(b) Yaumiddin (hari pembalasan): hari yang di waktu itu masing-masing manusia menerima pembalasan amalannya yang baik maupun yang buruk. Yaumiddin disebut juga yaumulqiyaamah, yaumulhisaab, yaumuljazaa’ dan sebagainya.


5. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah (a) dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan (b)

(a) Na’budu diambil dari kata ’ibaadat: kepatuhan dan ketundukan yang ditimbulkan oleh perasaan tentang kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, karena keyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya.

(b) Nasta‘iin (minta pertolongan), diambil dari kata isti‘aanah: mengharap bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup diselesaikan dengan tenaga sendiri.

6. Tunjukilah kami (a) jalan yang lurus,

(a) Ihdina (tunjukilah kami), diambil dari kata hidaayat: memberi petunjuk ke suatu jalan yang benar. Yang dimaksud dengan ayat ini bukan sekedar memberi hidayah saja, tetapi juga memberi taufiq.

7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni‘mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai (orang-orang yang mengetahui kebenaran dan meninggalkannya), dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (orang-orang yang meninggalkan kebenaran karena ketidaktahuan dan kejahilan). (a)

(a) Yang dimaksud dengan mereka yang dimurkai dan mereka yang sesat ialah semua golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.

PENUTUP


Surah "Al Faatihah" ini melengkapi unsur-unsur pokok syari’at Islam, kemudian dijelaskan perinciannya oleh ayat-ayat Al Qur’an yang 113 surah berikutnya.
Persesuaian surah ini dengan surah "Al Baqarah" dan surah-surah sesudahnya ialah surah Al Faatihah merupakan titik-titik pembahasan yang akan diperinci dalam surah Al Baqarah dan surah-surah yang sesudahnya.

Di bahagian akhir surah "Al Faatihah" disebutkan permohonan hamba supaya diberi petunjuk oleh Tuhan ke jalan yang lurus, sedang Surah "Al Baqarah" dimulai dengan penunjukan "Al Kitab" (Al Qur’an) yang sempurna sebagai pedoman menuju jalan yang dimaksudkan itu.

Thursday, February 24, 2011

ITTIBA' ( MENGIKUTI AL QURAN ) DAN KEUTAMAAN AMANAH

Ittiba‘ (mengikuti) di dalam Alquran disebutkan dalam dua hal; yang diperintahkan dan yang dilarang. Hal ini dapat dijumpai dalam beberapa ayat. Di antara yang diperintahkan adalah;
1. Mengikuti wahyu.

Allah berfirman:


Ertinya ."Alif, laam miim shaad. Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang kafir), dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya)
(Al-A'raaf: 1 - 3).

Kandungan ayat:

1. Menjelaskan keagungan Alquran. Karena telah diturunkan oleh yang Maha Bijaksana dan Maha Terpuji.

2. Alquran mengandung semua apa yang diperlukan oleh para hamba baik dalam urusan agama atau dunia mereka. Sebagaimana firman Allah:




Ertinya "Dan Kami turunkan kepadamu Alkitab (Alquran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri".(An-Nahl:89).

3. Alquran diturunkan kepada Muhammad sebagai peringatan kepada seluruh manusia. Allah berfirman:




Erinya "Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan".(Saba':28).

4. Perintah untuk mengikuti apa yang telah diturukan Allah kepada Rasul saw.

5. Larangan mengikuti selain Allah, seperti orang-orang yang ditujukan doa kepada mereka (disembah) selain Allah atau bersama-Nya. Allah berfirman:



Ertinya "Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). (Az-Zumar:3)

dan firman Allah:



"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan solat dan mengeluarkan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus".(Al-Bayinah:5)


Keutamaan Amanat


عن أنس بن مالك -رضي الله عنه- أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال:
( إن لكل أمة أمينا، وإن أميننا أيتها الأمة أبو عبيدة بن الجراح )
البخاري (ح 3744) ، مسلم (ح 2419)



Dari Anas bin Malik ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Sesungguhnya setiap umat itu memiliki seorang kepercayaan dan sesungguhnya orang kepercayaan kita wahai umatku adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah."
(Bukhari, 3744 dan Muslim, 2419)

Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari, jilid 7, halaman 93:
"Al-Amin adalah orang yang dipercaya dan diridai. Meskipun sifat ini sama-sama dimiliki oleh sahabat yang lain, tetapi alur pembicaraan menunjukkan bahwa sahabat ini memiliki kelebihan. Maka dari itu Rasulullah memberikan sifat khusus kepada sebahagian sahabat, meskipun sahabat yang lain juga memiliki sifat yang sama, seperti:

- Memberikan kekhususan kepada Usman dengan sifat malu.
- Memberikan kekhususan kepada Ali sebagai ahli hukum.
- Memberikan kekhususan kepada Zaid sebagai ahli pembagian warisan.

Meskipun para sahabat yang lain juga memiliki keahlian yang sama dengan mereka dalam masalah itu, tetapi ketiga sahabat itu memiliki kelebihan daripada mereka, begitu pula Abu Ubaidah ra. memiliki kelebihan daripada mereka.

Wednesday, January 12, 2011

DUA PRINSIP AGUNG

DUA PRINSIP AGUNG




Allah berfirman: "Tentang sesuatu apapun kamu berselisih maka putusannya (terserah) kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nyalah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali)" (Asy-Syura: 10)

Keterangan dan kandungan ayat:

Firman Allah: "Tentang sesuatu apapun kamu berselisih"
maksudnya masalah prinsip-prinsip dan cabang-cabang agama yang tidak kamu sepakati.

Firman Allah: "maka putusannya (terserah) kepada Allah"
maksudnya dikembalikan kepada kitab Allah dan sunah Nabi saw. Apapun putusan yang tersebut di dalamnya adalah benar, sedang yang bertentangan dengannya adalah salah.

Firman Allah "itulah Allah Tuhanku" maksudnya; Allah, sebagaimana Dia adalah Tuhan Yang Maha Pencipta, Pemberi rezeki dan pengatur, Dia juga sebagai hakim antara para hamba-Nya dengan syariat-Nya dalam semua urusan mereka.
Dari ayat dapat diambil kesimpulan bahwa
Ijma' (konsensus ulama) adalah dalil yang qath'i adalah dasar hukum yang jelas. Hal itu, karena Allah swt. tidak memerintahkan untuk merujuk kepada-Nya kecuali dalam urusan yang kita perselisihkan. Dari itu maka semua hal yang sudah kita sepakati adalah cukup. Umat terjaga dari kesalahan, dari itu kesepakatannya sesuai dengan kitab Allah dan sunah Rasul-Nya.

Firman Allah: "Kepada-Nyalah aku bertawakal"
yaitu, "Aku bersandar dengan hatiku kepada-Nya dalam mendatangkan manfaat/maslahat dan menolak mudarat. Aku percaya kepada-Nya dalam menolongku dalam urusan itu."

Firman Allah swt.: "kepada-Nyalah aku kembali" yaitu, "Aku menghadap dengan hati dan badanku kepada-Nya, juga kepada ketaatan dan beribadah kepada-Nya.
Tawakal dan kembali adalah dua prinsip agung yang sering disebut oleh Allah dalam kitab-Nya. Karena dengan keduanya seorang hamba mencapai kesempurnaan, dan akan tidak sempurna dengan kehilangan salah satu atau keduanya.

Allah berfirman: "Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan" dan "Sembahlah Allah dan bertawakallah kepada-Nya"
Lihat Tafsir Ibnu Sa'di, halaman 699 (cetakan Luwaihiq)


Beberapa Tanda Kenabian Muhammad saw.


عن أبي سفيان بن حرب -رضي الله عنه- في قصته مع هرقل أن هرقل قال:
( وسألتك بم يأمركم؟ فذكرت أنه يأمركم أن تعبدوا الله ولا تشركوا به شيئا، وينهاكم عن عبادة الأوثان، ويأمركم بالصلاة والصدق والعفاف. فإن كان ما تقول حقا فسيملك موضع قدمي هاتين )
الحديث (البخاري ح 7) ، (مسلم ح 1773)


Dari Abu Sufyan ra. dalam kisahnya dengan Hiraklius. Hiraklius Berkata: "Aku bertanya kepadamu, 'Apa yang dia perintahkan kepadamu?' kamu menjawab bahwa dia memerintahkanmu menyembah Allah, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatupun dan melarang kalian menyembah berhala, memerintahkan kamu sekalian mengerjakan salat, jujur, dan 'iffah. Bila apa yang kamu katakan ini benar, maka ia akan menguasai tempat pijakan dua kakiku ini.(Diriwayatkan oleh Bukhari, 6. Dan Muslim, 1773)

'Afaf adalah menahan diri dari sesuatu yang haram dan perangai yang tidak terpuji.
Nas hadis di atas adalah sebagian dari sebuah hadis yang panjang, yang mencakup pokok-pokok ajakan Muhammad saw. untuk menganut Ajaran tauhid. Yaitu dengan tulus ikhlas hanya menyembah Allah semata, melarang menyembah selain-Nya, mengajak melakukan salat dan perintah-perintah dalam Islam lainnya.

Juga mengandung kebenaran yang ditemukan oleh Hiraklius setelah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada Abu Sufyan ra, bahwa semua itu merupakan sifat-sifat Rasulullah saw yang terdapat dalam kitab-kitab yang diturunkan kepada Nabi-nabi mereka.

Nawawi dalam kitabnya "Syarah Sahih Muslim, jilid 12, halaman 107 mengatakan: "Para ulama berkata: 'Apa yang dikatakan oleh Hiraklius, diambilnya dari kitab-kitab lama, di dalam Taurat sifat ini dan sejenisnya termasuk tanda-tanda kerasulan Muhammad saw. Dari tanda-tanda itu ia mengetahuinya'".

Allah telah menyebutkan tentang Ahli kitab, bahwa mereka mengetahui tentang Muhammad saw. Yang mana sifat-sifatnya telah disebutkan dalam kitab-kitab mereka, Allah berfirman:


"Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Alkitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui".(Al Baqarah:146).

Wednesday, December 29, 2010

Pas ganti Umno -Imam Bulan

Tuesday, November 23, 2010

Video Mjalis Khatam Al Quran

Login | Facebook: "Facebook is a social utility that connects people with friends and others who work, study and live around them. People use Facebook to keep up with friends, upload an unlimited number of photos, post links and videos, and learn more about the people they meet."

PADERI BERTANYA




Seorang pemuda yang dikejutkan oleh mimpinya supaya pergi ke gereja Samaan. Tiga kali mimpinya itu berulang. Lalu ia bersiap sedia dengan pakaian dan cara yang diberitahu dalam mimpinya.

Ia masuk ke gereja Samaan tanpa disedari oleh Paderi-paderi yang hadir. Dia sama-sama menanti kedatangan ketua Paderi. Setelah ketua Paderi datang, ketua Paderi itu tidak dapat berucap. Dia tahu ada orang lain, orang Islam di dalam gereja itu. Katanya, " ada orang yang percaya kepada Syariat Muhammad di dalam gereja ini."

Semua paderi menjadi gempar dan mereka mahu orang itu di bunuh. Namun ketua paderi menghalang, sebaliknya ketua paderi meminta orang itu bangun supaya mereka dapat mengenalinya.Sebaliknya pemuda itu pun bangun, tanpa rasa takut.

Paderi berkata, "Aku akan mengajukan kepada anda 22 pertanyaan Dan anda harus menjawabnya dengan tepat. "

Si pemuda tersenyum Dan berkata, "Silakan!"

Sang paderi pun mulai bertanya, "Sebutkan satu yang tiada duanya, dua yang tiada tiganya, tiga yang tiada empatnya, empat yang tiada limanya, lima yang tiada enamnya, enam yang tiada tujuhnya, tujuh yang tiada delapannya, delapan yang tiada sembilannya, sembilan yang tiada sepuluhnya, sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh, sebelas yang tiada dua belasnya, dua belas yang tiada tiga belasnya, tiga belas yang tiada empat belasnya."

"Sebutkan sesuatu yang dapat bernafas namun tidak mempunyai ruh! Apa yang dimaksud dengan kuburan berjalan membawa isinya? Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam syurga? Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah namun Dia tidak menyukainya? Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dengan tanpa ayah Dan ibu!"

"Siapakah yang tercipta dari api,siapakah yang diazab dengan api Dan siapakah yang terpelihara dari api? Siapakah yang tercipta dari batu, siapakah yang diazab dengan batu Dan siapakah yang terpelihara dari batu?"

"Sebutkan sesuatu yang diciptakanAllah Dan dianggap besar! Pohon apakah yang mempunyai 12 ranting, setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah naungan Dan dua di bawah sinaran matahari?"

Mendengar pertanyaan tersebut, pemudaitu tersenyum dengan keyakinan kepada Allah.

Setelah membaca Bismillah dia berkata,

-Satu yang tiada duanya ialah Allah s.w.t..

-Dua yang tiada tiganya ialah Malam dan Siang. Allah s.w.t. Berfirman, "Dan Kami jadikan malam Dan siang sebagai dua tanda (kebesaran kami)." (Al-Isra': 12).



-Tiga yang tiada empatnya adalah kesilapan yang dilakukan Nabi Musa ketika Khidir menenggelamkan sampan, membunuh seorang anak kecil Dan ketika menegakkan kembali dinding yang hampir roboh.

-Empat yang tiada limanya adalah Taurat,Injil, Zabur Dan al-Qur'an.

- Lima yang tiada enamnya ialah Solatlima waktu.

-Enam yang tiada tujuhnya ialah jumlahHari ketika Allah s.w.t. Menciptakan makhluk.

-Tujuh yang tiada delapannya ialah Langit yang tujuh lapis. Allah s.w.t. Berfirman, "Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang." (Al-Mulk: 3).

-Delapan yang tiada sembilannya ialah Malaikat pemikul Arsy AR-Rahman. Allah s.w.t. Berfirman, "Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada Hari itu delapan orang malaikat men-junjung 'Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka." (Al-Haqah: 17).

-Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah mu'jizat yang diberikan kepada Nabi Musa yaitu: tongkat, tangan yang bercahaya, angin topan, musim paceklik, katak, darah, kutu Dan belalang.*

-Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh ialah Kebaikan. Allah s.w.t. Berfirman, "Barang siapa yang berbuat kebaikan maka untuknya sepuluh kali lipat." (Al-An'am: 160).

-Sebelas yang tiada dua belasnya ialah jumlah Saudara-Saudara Nabi Yusuf .

-Dua belas yang tiada tiga belasnya ialah Mu'jizat Nabi Musa yang terdapat dalam firman Allah,

"Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, 'Pukullah batu itu dengan tongkatmu.' Lalu memancarlah daripadanya dua belas Mata air." (Al-Baqarah: 60).

-Tiga belas yang tiada empat belasnya ialah jumlah Saudara Nabi Yusuf ditambah dengan ayah Dan ibunya.

-Adapun sesuatu yang bernafas namun tidak mempunyai ruh adalah waktu Subuh. Allah s.w.t. ber-firman, "Dan waktu subuh apabila fajarnya mulai menyingsing. " (At-Takwir: 18).

-Kuburan yang membawa isinya adalah Ikan yang menelan Nabi Yunus AS.

-Mereka yang berdusta namun masuk kedalam surga adalah saudara-saudara Nabi Yusuf , yakni ketika mereka berkata kepada ayahnya, "Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlumba-lumba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barangkami, lalu dia dimakan serigala. " Setelah kedustaan terungkap,Yusuf berkata kepada mereka, " tak ada cercaan terhadap kamu semua." Dan ayah mereka Ya'qub berkata, "Aku akan memohonkan ampun bagi muka pada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ." (Yusuf:98)



-Sesuatu yang diciptakan Allah namun tidak Dia sukai adalah suara Keldai. Allah s.w.t. berfirman, "Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara keldai." (Luqman: 19).

-Makhluk yang diciptakan Allah tanpa bapa dan ibu adalah Nabi Adam, Malaikat, Unta Nabi Shalih dan Kambing Nabi Ibrahim.

-Makhluk yang diciptakan dari api adalah Iblis, yang diazab dengan api ialah Abu Jahal dan yang terpelihara dari api adalah Nabi Ibrahim. Allah s.w.t. berfirman, "Wahai api dinginlah dan selamatkan Ibrahim." (Al-Anbiya': 69).

-Makhluk yang terbuat dari batu adalah Unta Nabi Shalih, yang diazab dengan batu adalah tentara bergajah dan yang terpelihara dari batu adalah Ashabul Kahfi (penghuni gua).

-Sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap perkara besar adalah Tipu Daya wanita, sebagaimana firman Allah s.w.t.? "Sesungguhnya tipu daya kaum wanita itu sangatlah besar." (Yusuf: 28).

-Adapun pohon yang memiliki 12 ranting setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah teduhan dan dua di bawah sinaran matahari maknanya: Pohon adalah Tahun, Ranting adalah Bulan, Daun adalah Hari dan Buahnya adalah Solat yang lima waktu, Tiga dikerjakan di malam hari dan Dua di siang hari.

Paderi dan para hadirin merasa takjub mendengar jawapan pemuda Muslim tersebut. Kemudian dia pun mula hendak pergi. Namun dia mengurungkan niatnya dan meminta kepada paderi agar menjawab satu pertanyaan saja. Permintaan ini disetujui oleh paderi.

Pemuda ini berkata, "Apakah kunci syurga itu?"

mendengar pertanyaan itu lidah paderi menjadi kelu, hatinya diselimuti keraguan dan rupa wajahnya pun berubah. Dia berusaha menyembunyikan kebimbangannya, namun tidak berhasil. Orang-orang yang hadir di gereja itu terus mendesaknya agar menjawab pertanyaan tersebut, namun dia cuba mengelak.

Mereka berkata, "Anda telah melontarkan 22 pertanyaan kepadanya dan semuanya dia jawab, sementara dia hanya memberi cuma satu pertanyaan namun anda tidak mampu menjawabnya! "

Paderi tersebut berkata, "Sesungguh aku tahu jawapannya, namun aku takut kalian marah."

Mereka menjawab, "Kami akan jamin keselamatan anda. "

Paderi pun berkata, "Jawapannya ialah: Asyhadu An La Ilaha Illallah Wa Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah. "

Lantas paderi dan orang-orang yang hadir di gereja itu terus memeluk agama Islam. Sungguh Allah telah menganugerahkan kebaikan dan menjaga mereka dengan Islam melalui tangan seorang pemuda Muslim yang bertakwa.

(Di petik dan disusun dari Mausu'ah al-Qishash al-Waqi'ah )



Sunday, October 31, 2010


Wednesday, September 29, 2010






REFORMASI FATWA ROKOK: DULU KHILAF KINI IJMAK
(Biro IT)

Sejajar dengan kapasiti PAPISMA yang memperjuangkan kesihatan secara menyeluruh, maka salah satu perkara yang sentiasa ditentang oleh PAPISMA ialah tabiat merokok. Sudah tentu masalah merokok ini tidak wujud hanya dengan seorang perokok melainkan ianya melibatkan industri rokok, usahawan rokok, peruncit yang menjual rokok, hasil kerajaan yang diperolehi daripada perniagaan rokok dan sebagainya. Oleh itu, sebagai badan NGO, PAPISMA tentunya tidak mempunyai sebarang kuasa melainkan kuasa memberitahu akan keburukan rokok. Sebagai NGO Islam pula, PAPISMA mempunyai keupayaan untuk memberi nasihat akan hukum rokok dan merokok agar disedari oleh masyarakat Islam. Hukum-hukum ini sangat penting ditekankan kerana hanya dengan approach agama dapat memberi kesedaran yang kekal bagi megatasi masalah ini. Mudah-mudahan mereka akan meninggalkan tabiat buruk sebagai perokok.

Untuk beberapa siri keluaran Buletin PAPISMA Terengganu ini, kami akan memaparkan tajuk sekitar merokok yang dibincangkan secara terperinci. Artikel ini telah disumbangkan oleh sahabat kita iaitu Ustaz Mohd Azhar bin Abdullah, Pensyarah KIAS, Nilam Puri, Kelantan. Artikel ini pula diambil dari laman web Al-Fadhil Ustaz Dr. Abdul Basit b. Abdul Rahman. Berikut adalah artikel tersebut:

Reformasi Fatwa Rokok: Dulu Khilaf Kini Ijma’ - Siri 1 Filed in Artikel - Makalah on Jul.30, 2010

REFORMASI FATWA ROKOK: DULU KHILAF KINI IJMAK

Untuk perbincangan. Artikel ini sebanyak 4 siri.

Siri 1 Fikrah Perokok Terumbang-ambing Antara Mistik, Imperalisme dan Kapitalisme

SELAMA 16 KURUN lamanya umat Islam “buta tembakau”. Umat Islam tidak tahu langsung apa itu tembakau, bagaimana pokok, daun dan batangnya serta untuk apa tembakau itu boleh digunakan. Sepanjang tempoh itu umat Islam bersih dari usaha pendapatan penanaman tembakau dan pencemaran asapnya.

Sementara itu, walaupun mereka bebas dari fenonema tembakau tetapi mereka menghadapi zaman kemunduran. Rata-rata kedudukan politik, ekonomi dan sosial umat Islam pada waktu itu berada pada tahap sangat daif; semakin menurun hari demi hari. Mereka hidup dalam kejumudan, kepompong taklid buta, kegelapan politik dan ketidakstabilan sosial. Tetapi, malangnya umat Islam terus lena diulit ilusi kegemilangan Islam lampau.

Manakala masyarakat barat sebaliknya, di mana mereka menemui sentuhan ketamadunan moden. Selepas keperitan dan pengajaran perang Salib yang berlanjutan hampir 200 telah mengalihkan strategi mereka 180 darjah ke arah pembangunan dalaman, penguasaan ekonomi melalui penemuan-penemuan baru. Mereka nekad menerobos sempadan sejarah gelap ke alam pencerahan dan realiti masa depan yang gemilang walaupun terpaksa bermula dari bawah.
Rentetan penemuan demi penemuan dicapai yang membawa kepada penemuan tembakau pada akhir kurun ke-14 menjadikan gelombang penguasaan ekonomi global kian realistik. Sejak itu, dunia Eropah telah berkembang pesat dengan industri tembakau yang diterajui monopoli kapitalis. Masyarakat barat telah diselubungi fenonema ini selama 200 tahun sebelum merebak ke dunia umat Islam.

Penemuan sejarah mencatatkan penemuan awal rokok dari mitos mistik orang-orang asli benua Amerika. Orang Indian ini menghisap rokok untuk mendapatkan asapnya bagi tujuan pemujaan ruh baik dan menghindarkan ruh jahat.

Menurut catatan “Wikipedia” sewaktu Colombus dan kelasinya menemui pulau Bahamas pada tahun 1429, mereka melihat orang-orang Indian yang memegang sesuatu yang bernyala dan mengeluarkan asap di hujungnya. Mereka menghisap benda itu dan menghembuskan asapnya dengan menggunakan alat seperti paip. Mereka meletakkan tembakau di dalam lubang paip dan menyalakannya untuk mendapatkan asap.

Mereka melakukan demikian kerana berpegang kepada kepercayaan interaksi ghaib ruh baik dan ruh jahat. Mereka sentiasa melakukannya sebagai upacara suci bagi mendapatkan pertolongan ruh agong dan dalam situasi yang sama bermohon dijauhi dari ruh yang tidak baik.

Hakikatnya, ruh jahat atau baik yang dimaksudkan oleh orang Indian itu merupakan makhluk halus dari jenis jin. Percaya atau tidak, makhluk halus di dunia ini hanya dua sahaja iaitu malaikat yang diciptakan dari nur dan kedua jin yang dijadikan dari unsur api.

Dr. Salah al-Khalidi dalam “al-Qasas al-Qur’ani” menyatakan bahawa malaikat dan jin merupakan makhluk alam ghaib, iaitu ghaib dari alam nyata manusia sahaja. Manusia tidak melihat mereka dengan mata kasar tetapi mereka hidup dan wujud di sekeliling kita.

Tambahnya lagi, asal-usul jin dari “al-Samum” seperti penjelasan surah al-Hijr, ayat 27, maksudnya; “Dan kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas”. Hakikat “api yang sangat panas” itu disebut dalam al-Quran sebagai “al-Samum”. “al-Samum” pula terbentuk dari “al-Marij” iaitu gabungan dua juzuk api. Pertama; diambil dari satu juzuk yang terakhir dari kepanasan api yang mengeluarkan sinaran api dan kedua, juzuk asap hitam yang dijulang api marak. Intergrasi kedua-dua juzuk inilah diciptakan jin.

Menurut keterangan “Ensiklopedia Islam” golongan malaikat semuanya baik belaka, taat, beriman dan tidak sekali mengganggu manusia, malah mendatangkan rahmat. Manakala golongan jin terbahagi kepada dua; jin beriman dan kedua jin kafir yang disebut juga syaitan dan iblis yang tentunya membuat kacau dan memperdaya manusia dari hidayat Allah. Justeru, mitos mistik orang Indian itu berkait rapat dengan anutan kuasa ghaib yang bertentangan dengan Islam.

Pembakaran seumpama colok dan kemenyan untuk mendapatkan asap sebenarnya mengandungi elemen penyeruan makhluk halus kerana unsur asap sinonim dengan kejadian jin. Dikatakan bahawa jin bukan sahaja makan sisa tulang dan makanan tetapi juga begitu teruja dengan asap.

Sehubungan itu, tidak jauh kebenarannya jika Ustaz Dato’ Haji Ismail Kamus dalam satu ceramahnya berseloroh bahawa orang yang hisap rokok perlu hati-hati kerana asap yang dihasilkan itu mampu menarik minat jin. Katanya; “Jin dijadikan dari asap dan makan dari unsur asap seperti manusia dijadikan dari tanah yang makan dari unsur kejadian tanah. Maka orang yang hisap rokok sebenarnya kawan jin”. Kenyataan ini memberikan signal tersirat apakah pengaruh asap yang menjadi makanan jin ini juga salah satu faktor menyulitkan usaha “menalak tiga” rokok. Keadaan ini membuat perokok begitu liat dan sukar memberikan keikhlasan suci untuk membuang jauh-jauh tabiat rokok.
Namun, saya yakin niat perokok bukan mendampingkan diri dengan jin. Mereka menyalakan rokok semata-mata mendapatkan kenikmatan candu dalam kandungan asap rokok. Dalam cita-cita perokok asap itu adalah kemuncak kelazatan. Tiada rokok tanpa asap. Banyak benda lain yang berasap tapi tidak seindah rokok.

Sebab itu soal hubungan jin, pembaziran duit dan efek racun dalam rokok yang disahkan pakar perubatan mengandungi lebih kurang 4000 racun yang membawa penyakit tahap berbahaya dan maut sehingga laporan Organisasi Kesihatan Dunia (WHO) menganggarkan 4.9 juta manusia mati setahun akibat rokok merupakan perkara sampingan, malah sesuatu yang tidak dapat dielakkan bagi perokok. Mereka rela apa saja demi rokok!

Suatu perkara sampingan yang perlu disentuh berkaitan asap dalam kesempatan itu juga ialah fatwa Jabatan Mufti Melaka menegaskan jika asap yang dihasilkan samada dari rokok, colok dan kemenyan dalam bentuk perbomohan, penyeruan dan perubatan tradisional dengan maksud mendampingi dan meminta bantuan makhluk ‘ghaib’ adalah bercanggah dengan akidah Islam.

Sejarah kepesatan perusahaan tembakau secara jelas disaksikan apabila ahli korporat besar bernama Rodrigo De Jares merintis perniagaan tembakau, khususnya perusahaan rokok di Cuba. Pada tahun 1556-1558 rokok mula diperkenalkan ke Perancis, Sepanyol dan Portugal sehingga tersebarlah ke seluruh dunia.

Dilaporkan, selepas orang-orang Sepanyol berjaya mempromosikan tembakau ke Eropah, terutama kepada golongan bangsawan British yang menghisap tembakau dengan paip pada waktu rehat telah melonjakan aktiviti penanaman tembakau sebagai komuniti ekonomi negeri-negeri jajahan British yang bermula di Amerika Utara.

Usaha kapitalis melalui selendang imperealis semakin berjaya. Pada tahun 1630-an hasil tembakau memberikan loba besar bagi negeri Virginia. Akibatnya, fenonema tembakau tidak dapat disekat lagi, kian pesat pada abad ke-17.

Serentak dengan itu, pedagang Eropah memperkenalkan tembakau ke seluruh Asia dan Afrika. Kemudian dalam abad ke 19 orang-orang Sepanyol memperkenalkan cerut ke Asia melalui tanah Filipina dan kemudian ke Rusia dan Turki serta tidak terkecuali ke dalam negeri-negeri Islam, terutama tanah jajahan mereka.

Dr. Yusuf al-Qardawi dalam ‘Fatawa Mu’asarah’ dan mantan Syeikh al-Akbar Mesir, Jad al-Haq Ali Jad al-Haq dalam fatwanya mengatakan tembakau dan rokok masuk ke bumi umat Islam lewat ke-11 Hijrah, khususnya di Maghribi, Sudan, kemudian berkembang ke negeri-negeri lain. Ertinya, selama 100 tahun umat Islam tidak mempunyai apa-apa hubungan dengan tembakau, apatah lagi rokok.

Justeru, aneh sekali umat Islam di negara ini yang masih koma dengan hakikat rokok. Sehingga kini, masih ramai yang menyangka sigaret muncul dari sejarah melayu silam. Mereka merumuskan demikian kerana tembakau yang dilihat begitu sinonim dengan kebudayaan melayu sejak berzaman menggunakan sireh, buah pinang dan daun nipah merupakan salah satu tumbuhan asli tropika yang tumbuh di rantau ini.

Ini satu kekeliruan. En. Mohd Fakri bin Mohd Noor, PRO Lembaga Tembakau Negara, Kota Bharu Kelantan yang telah berkhidmat hampir 20 tahun berkata tembakau bukan tumbuhan asal rantau ini. Tumbuhan tembakau seperti juga getah dibawa masuk ke Tanah Melayu seringi penjajahan Inggeris.

Sumber Lembaga Tembakau Negara melaporkan industri tembakau di Malaysia bermula dengan tembakau cerut yang ditanam secara meluas di Sabah sejak awal abad kesembilan belas, setelah didapati penanamannya berjaya diusahakan pada tahun 1883. Pada satu ketika ianya menarik minat lebih dari lima puluh pengusaha dari Eropah dan mencapai nilai eksport sebanyak RM2 juta pada tahun 1902.

Selepas perang dunia kedua, khususnya di tahun 1959 usaha meningkatkan tanaman tembakau telah dilaksanakan secara serius. Di pertengahan 1970-an pula penanaman tembakau berkembang maju di Kelantan, Terengganu, Kedah, Perlis, Pahang dan lain-lainnya di negeri Melaka, Negeri Sembilan dan Johor.

Berdasarkan fakta di atas menunjukkan industri tembakau dan rokok mempunyai hubungan yang erat dengan gerakan penjajahan barat ke atas bumi umat Islam, khususnya Yahudi melalui dasar kapitalisme.

Kegilaan kapatilis yang didalangi oleh golongan elit Yahudi yang mementingkan kekayaan semata-mata mengenepikan soal moral sama sekali. Mereka tidak mempersoalkan langsung keburukan rokok, malah mengeksplotasi dari elemen ketagihan rokok sebagai aset melariskan perniagaan rokok. Adapun penjajahan tidak lebih dari wasilah demi merealisasikan matlamat itu.

Kemunculan rokok hakikatnya membawa malapetaka dan kemusnahan besar kepada dunia samada barat dan timur. Namun kapitalis tidak memperdulikan kesan itu kepada manusia walaupun usaha-usaha pengharaman penanaman tembakau dan rokok dijalankan pemerintah. Mereka sentiasa melancarkan propaganda tentang keistimewaan rokok yang didakwa mampu melancarkan darah, memenangkan tekanan darah, baik untuk usus dan sebagainya.

Menurut fakta buku “Rokok Haram atau Makruh dan Penawar atau Pembunuh” yang ditulis oleh Muhammad Abu Faroq al-Athari menyebut bahawa Raja Inggeris bernama Jims 1 mengambil langkah drastik mengharamkan rokok. Raja ini juga melancarkan operasi besar-besaran memusnahkan tembakau secara habis-habisan serta mengeluarkan satu perintah berupa undang-undang pengharaman rokok pada tahun 1604M.

Kemudaratan rokok jelas menghancurkan generasi manusia sehingga pada tahun 1643M kerajaan Rusia telah meluluskan undang-undang berat di mana sesiapa yang membeli, menjual, mengedar dan menghisap rokok dari tembakau akan dihukum dengan dibuang negeri ke Siberia atau dihukum mati.

Bersambung ke siri ke-2...

Petikan dari PAPISMA TRG.